kontekstualisasi ayat dengan hubungannya dengan media pembelajaran dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran (3): 44

kontekstualisasi ayat dengan hubungannya dengan media pembelajaran dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran (3): 44

elaz
Kamis, 17 Maret 2016



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses  belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru paling tidak, dapat menggunakan alat yang murah dan efisien meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan. Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pengajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pengajaran.
Alat / Media merupakan sarana yang membantu proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan indera pendengaran dan penglihatan, bahkan adanya alat / media tersebut dapat mempercepat proses pembelajaran murid karena dapat membuat pemahaman murid lebih cepat pula. Penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pengajaran. 
Media pembelajran itu sendiri, sebenarnya sudah ada dan diaplikasikan sejak zaman Rasulullah saw. Rasulullah adalah sosok pendidik yang agung bagi umat manusia. Beliau dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada sahabat-sahabatnya tidak lepas dari adanya media sebagai sarana penyampaian materi ajarnya. Seperti Rasulullah menggambar dan membuat garis-garis ketika sedang menyampaikan ajarannya kepada para sahabatnya. Hal ini membuktikan bahwa kebenaran tentang adanya media pembelajaran sudah ada sejak zaman dahulu, yaitu sejak zaman Rasulullah saw.
Bila kita perhatikan banyak orang yang cenderung melupakan apa yang telah mereka dengar, Salah satu jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan peserta didik mendengarkan apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru), karena peserta didik mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga perhatian tidak dapat tertuju pada stimulus secara menyeluruh. Hal ini menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat diingat dengan baik.
Penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan semula. Dengan penambahan visual di samping auditori dalam pembelajaran kesan yang masuk dalam diri anak didik semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki peserta didik saling menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran). Dalam arti kata pada pembelajaran seperti ini sudah diikuti oleh reinforcement yang sangat membantu bagi pemahaman anak didik terhadap materi pembelajaran.[1]
Anjuran untuk menggunakan media dalam proses belajar mengajar telah disebutkan didalam al-Quran dalam beberapa ayat, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, namun setelah dikaji dan di uraikan dengan menggunakan metode-metode tafsir oleh para ulama kita, maka kita akan mengetahui makna yang terkandung didalamnya, karna memang didalam Al-Quran tidak semua ayat bisa langsung dipahami secara kontekstual, ada beberapa ayat Al-Quran yang mutasyabihat yang membutuhkan penafsiran lebih dalam, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan beberapa disiplin ilmu yang biasa disebut tafsir.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas kita dapat menarik rumusan masalah sebagai berikut :
a.       Pengertian Kontekstualisasi dan media
b.      Kontektualisasi ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S Ali Imran (3): 44, Q.S al-Qalam (68): 1 dan Q.S al-Alaq (96): 4 yang menggunakan term al-Qalam
c.       Kontekstualisasi ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S al-Alaq (96):1
d.      Kontektualisasi ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S  al-Baqarah (2): 260
C.    Fokus Kajian
Agar penulisan makalah ini lebih sistematis dan sesuai dengan pokok pembahasan, maka fokus kajian dalam makalah ini sebagai berikut: "Bagaimana kontekstualisasi ayat dengan hubungannya dengan media pembelajaran dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran (3): 44, Q.S al-Qalam (68): 1 dan Q.S al-Alaq (96): 4 yang menggunakan term al-Qalam dan juga Q.S al-Alaq (96):1, Q.S  al-Baqarah (2): 260, dengan menggunakan pendapat-pendapat dari beberapa ulama ahli tafsir.
D.    Tujuan
Tujuan penulisn makalah ini ialah :
1.      Untuk mengetahui pengertian kontekstualisasai dan media dengan hubungannya apa yang dikatakan Al-Qur’an
2.      Untuk mengetahui maksud yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual, terutama yang berhubungan dengan media pembelajaran.
3.      Untuk mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan media pembelajaran
E.      Manfaat
Penulisan makalah ini dengan judul “KONTEKTUALISASI AYAT-AYAT YANG BERKAITAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM WAWASAN AL-QUR’AN” diharapkan nantinya dapat berguna, yaitu sebagai berikut
1.      Menambah pengetahuan kita tentang pentingnya menggunakan media dalam hal belajar mengajar, sebagai mana yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an
2.      Memperluas wawasan kita dalam memahami konteks ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan media pembelajaran
3.      Agar kita bisa memahami peranan penting Al-Qur’an dalam mengajarkan ilmu pengetahuan kepada manusia, sehingga kita bisa menjadi makhluk yang semakin tunduk kepada Allah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN KONTEKSTUALISASI DAN MEDIA
Kontekstualisasi adalah, usaha menempatkan sesuatu  dalam konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan keseluruhan seperti benang dalam tekstil. Dalam hal ini tidak hanya tradisi kebudayaan yang menentukan tetapi situasi dan kondisi sosial pun turut berbicara.[2]
Kata media berasal dari  bahasa Latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara” atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara ( وسا ئل ) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Grlach dan Ely (1971) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara laebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali inforasi visual atau verbal.[3]
Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa media adalah segala alat bantu yang dapat digunakan sebagai perantara untuk menyampaikan bahan yang telah direncanakan oleh penyaji kepada siswa sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai.[4]
jadi berdasarkan pengertian diatas kita bila kita kaitkan dengan kontekstualisasi ayat didalam Al-Quran yang berkaitan dengan penggunaan media, adalah, menjelaskan suatu ayat secara eksplisit yang berhubungan dengan ayat yang lain secara utuh, sehingga menambah kejelasan makna ayat itu dengan bantuan media untuk memudahkan mencpai tujuan yang di inginkan. Baik itu berupa media audio, media visual, media cetak, dll.
B.     Kontektualisasi ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S Ali Imran (3): 44 dengan Term Al-qlam

1)      Ayat dan Terjemahannya
a.       Q.S Ali-Imran (3) : 44
ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ 
Artinya :
Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.
2)      Analisa Kosa Kata
ذاَلِكَ مِن اَنْباءِالْغَيْبِ
sebagian dari berita gaib yang diberitakan sebelumnya
نُحِيْ اِلَيْكَ
diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW
وَماَ كُنْتَ لَدَيْهِمْ
Rasul SAW tidak hadir, tapi dengan wahyu memiliki pengetahuan yang lengkap dan sempurna.
اِذْيُلْقُوْنَ اَقْلٰمَهُم
Melempar anak panah, mengundi
اَيُّهُمْ يَقْفُلُ مَرْيَمْ
Orang yang berhak mengasuh Maryam
وَماَكُنْتَ لَدَيْهِمْ
Rasul SAW tidak hadir, tidak menyaksikan secara langsung peristiwa yang diceritrakan al-Qur`an itu

3)      Analisa Teori-teori Studi Tafsir
“Tanpa asbabun nuzul”
Adapun ayat-ayat yang semakna dengan ayat ini adalah tentang kisah Nabi Nuh (Hud: 49)
تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ  
itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini

Dan kisah Nabi Musa (al-Qashas: 44)
وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ إِذْ قَضَيْنَا إِلَىٰ مُوسَى الْأَمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشَّاهِدِينَ  
dan tidaklah kamu (Muhammad) berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan tiada pula kamu Termasuk orang-orang yang menyaksikan.

Wahbah az-Zuhaili mengatakan sebagian ulama Malikiyyah beristidlal dengan ayat ini dengan sahnya qur’ah (mengundi). Dan itu adalah asal  syariat kita bagi setiap orang yang ingin berbuat adil dalam bagian, dan itu sunah menurut jumhur fukaha terhadap orang yang memiliki hak yang sama supaya adil, menentramkan hati mereka dan menghilangkan keraguan bagi orang yang diberi kekuasaan untuk mengundi dan tidak ada kelebihan diantara mereka (sama-sama kuat). Mengundi (qur’ah) Abu Hanifah dan Ulama Hanafiyyah menolaknya dan mereka menolak hadits tentang qur’ah karena itu sama dengan mengundi nasib.
Abu Ubaidah mengatakan ada tiga Nabi yang melakukan qur’ah yaitu Yunus, Zakariya dan Nabi Muhammad saw. (Tafsir al-Munir, 3:227)
Ayat yang menceritakan bahwa Nabi Zakariya melakukan qur’ah adalah QS. Ali Imran ayat 44, sedangkan yang menceritakan bahwa Nabi Yunus melakukan qur’ah disebutkan dalam QS.ash-Shafat: 139-141
·         وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
·         إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُون
·         فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ
·         Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul,
·         (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan,
·         kemudian ia ikut berundi lalu Dia Termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.
Adapun bahwa Nabi Muhammad saw. melakukan qur’ah/undian sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَه
dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak bepergian Beliau mengundi diantara isteri-isteri Beliau, siapa yang keluar namanya berarti dialah yang ikut bepergian bersama Beliau (HR. al-Bukhari).
Abu Bakar al-Jazair mengatakan (Aisaru tafasir, 1:317) ayat ini menunjukkan disyariatkannya undian ketika terjadi perselisihan walaupun itu adalah syariat umat sebelum kita tapi ia juga ditetapkan dalam syariat kita.
Al-Syaukani mengatakan bahwa ayat ini menceritakan tentang perselisihan siapa yang berhak mengurus Maryam. Zakaria mengatakan bahwa ia yang paling berhak karena ia adalah anak bibinya, namun Bani Israil mengatakan kami lebih berhak karena ia adalah anak orang yang paling ‘alim diantara kita, lalu mereka mengundi. Mereka menjadikan pena mereka pada air yang mengalir, pena yang tidak terbawa air maka ia yang berhak mengurus Maryam, maka pena Bani israil terbawa air sedangkan Zakaria tidak.[5]
Selanjutnya beliau mengatakan ayat ini adalah dalil disyariatkannya qur’ah, adanya perbedaan dalam hukum disyaraitkannya qur’ah adalah sesuatu yang diktahui, hadits-hadits tentang qur’ah adalah sahih (Fath al-qadir, 1:389).
 Maksud kata al-Qalam diatas adalah anak panah yang menjadi alat undian mereka. Dalam ayat lain disebutkan :
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ  
dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Kata al-Qalam dalam ayat ini mengandung makna yang sebenarnya, yaitu pena atau alat menulis
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
maksudnya mengajarkan manusia tentang cara menulis dengan pena.[6]


4)      Tafsir Ayat
Semua yang dikisahkan itu (Istri Imran, Zakariya, Yahya, dan Maryam) merupakan sebagian dari berita yang berkaitan dengan ghaib yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. rasul SAW tidak mendapat keterangan tentang semuanya itu selain dari wahyu Allah SWT. Beliau tidak membaca kitab terdahulu seperti Taurat, tidak pula menerima ceritra dari siapa pun tentang kisah para Nabi, melainkan hanya tahu dari wahyu.[7] Al-Thabari mengaitkan kata ذَلِكَ dengan ayat sebelumnya yaitu ayat 33 tentang Adam, Nuh, Ibrahim, istri Imran, Zakariya, Yahya dan Maryam yang dikisahkan dalam al-Qur`an. Semua kisah mereka tidak diketahui Nabi SAW sebelumnya, selain dari wahyu.[8]
Kata نوحيه dalam ayat ini yang berarti mewahyukan kepada Nabi, berarti mengajarkan kepada Nabi sesuat yang tidak diketahuinya dengan perantara media pendengaran. Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa sesuatu yang belum diketahui haruslah kita pelajari, agar mendapat manfaat yang baik untuk bisa menjadikan kita faham dan mengerti kebenaran sesuatu, kita telah mengenal pada saat ini Radio, radio ini memberikan atau menyajikan kepada kita berita-berita yang belum kita tau sebelumnya, seperti kejadian kejadian yang terjadi diluar daerah kita atau bahkan diluar negara kita, dengan adanya radio yang menyiarkan berita, tentunya kita bisa mengetahui hal-hal yang terjadi di tempat lain meskipun kita tidak berada ditempat kejadian itu, itulah salah satu makna tentang ayat ini.
Kata يَلْقُوْنَ bisa juga berarti mengucapkan pidato, ayat inti mengindikasikan kepada ktia bahwa Inilah bekal yang Allah siapkan untuk para dai, agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya dalam rangka menyebarluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa sekarang tapi juga di masa yang akan datang, untuk generasi mendatang.
Ayat ini rupanya berkaitan dengan ayat seblumnya yaitu pada ayat 41 yang berbicara tentang tanda yang diberikan oleh Allah kepada Zakaria, yaitu berbicara degan isyarat, maksunya Zakaria hanya memberikan bahasa isyarat sebagai media untuk berkomunikasi, disini Allah mengajarkan kepada kita tentang cara lain dalam menyampaikan sesuatu, yaitu dengan bahasa isyarat, tentunya kita pernah menyaksikan di televisi ketika pembacaan berita, kadang-kadang di selipkan pada layar televisi, seseorang menyampaikan berita degan gerakan tangan, itu untuk memberikan informasi kepada orang-orang yang mempunyai gangguan pendengaran, sehingga dengan adanya bahasa isyarat, mereka bisa mengetahui apa yang diucapakan oleh pembawa berita. Nah inilah salah satu kontekstualisasi ayat yang menggunakan media sehingga memudahkan manusia dalam menyampaikan atau mengajarkan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan.

5)      Intisari dan Mamfaat yang diperoleh
Berdasarkan dari pemaparan ayat diatas kita dapat mendapatkan manfaat sebagi berikut :
1.      Bahwa kisah kisah yang diceritakan di dalam al-Qur;an itu benar adanya, sehingga memberikan pengaruh kepada seluruh manusia yang mempelajarinya terutama kepada guru yang mengajar kepada anak didiknya
2.      Dengan banyaknya media pembelajaran yang ada pada saat ini, kita bisa lebih mengasah kemampuan kita untuk belajar, degan menggunakan petunjuk-petunjuk yang telah disampaikan oleh Al-Qur’an, sehingga ilmu yang kita peroleh bisa bermanfaat bagi masyarakat utamanya bagi kita sendiri
3.      Al-Quran adalah wahyu Tuhan, bukan cuplikan dari kitab lain ataupun menukil hafalan orang lain.
4.      Persaingan haruslah dalam melaksanakan  tugas spiritual dan suci bukannya dalam memperoleh  kedudukan dan pangkat duniawi. (IRIB Indonesia)

b.      Q.S Al-Qalam (68) : 1
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
Arinya :
 Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis

1.      Analisa Kosa Kata

ن
huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya
وَما يَسْتُرُوْنَ
Tulisan yang dibaca
ولْقَلَمِ
Pena yang digunakan untuk menulis



2.      Analisa Teori-teori Studi Tafsir
Tanpa asbabunnuzul
Dalam ayat ini, Allah SWT bersumpah dengan kalam dan segala sesuatu yang ditulis dengan kalam itu untuk menyatakan bahwa kalam itu termasuk nikmat yang besar yg dianugerahkan Allah SWT kepada manusia, di samping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Dengan kalam orang dapat mencatat ajaran agama Allah yang disampaikan kepada para Rasul Nya, orang dapat mencatat pengetahuan-pengetahuan Allah yang bara ditemukannya. Dengan surah yang ditulis dengan kalam orang dapat menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya. Dengan kalam orang dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya; dan banyak lagi nikmat yang diperoleh manusia dengan kalam itu.
Yang dimaksud dengan kalam dalam ayat ini, bukanlah kalam sebagai benda yang terkenal itu, tetapi adalah kalam sebagai alat yang banyak kegunaannya bagi manusia, yang dapat menuliskan buah pikiran, keinginan dan perasaan seseorang.
Demikian pula ayat ini, Allah SWT menyebut kalam dan apa yang akan ditulis manusia dengan kalam itu. Pada masa Rasulullah SAW telah dikenal dengan nama dan kegunaan kalam itu, yaitu untuk menulis segala sesuatu yang terasa, yang terpikir dan yang akan disampaikan oleh seorang manusia kepada manusia yang lain. Sekalipun demikian belum berapa manusia yang mempergunakannya pada waktu itu karena masih banyaknya mereka yang buta huruf dan belum berkembangnya ilmu pengetahuan yang ada pada mereka, begitu juga pada masa sekarang. Pada masa Rasulullah SAW kegunaan kalam sebagai sarana menyampaikan agama Allah sangat dirasakan. Dengan kalam ayat-ayat Alquran ditulis di pelepah-pelepah kurma dan tulang-tulang binatang atas perintah Rasulullah. SAW. Demikian pula beberapa orang sahabat Nabi menulis hadis-hadis dengan kalam. Rasulullah SAW sendiri sangat menghargai orang-orang yang pandai menulis dan membaca. Hal ini nampak pada ketetapan Nabi Muhammad SAW pada perang Badar, yaitu seorang kafir yang ditawan kaum muslimin dapat membebaskan dirinya dengan cara membayar uang tebusan atau mengajar kaum muslimin menulis dan membaca.[9]
Dengan ayat ini, seakan-akan Allah SWT mengisyaratkan kepada kaum muslimin bahwa ilmu-Nya sangat luas, tiada batas dan tiada terhingga. Karena itu carilah dan tuntutlah ilmu Nya yang sangat luas itu agar dimanfaatkan manusia untuk kepentingan duniawi. Untuk mencatat dan menyampaikan ilmu itu kepada orang lain dan agar tidak hilang karena lupa atau seseorang meninggal dunia, dipergunakanlah kalam sebagai alat untuk menuliskannya. Karena itu, kalam erat hubungannya dan tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan ilmu, kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia.[10]
Ayat ini berdekatan masa turunnya dengan ayat Alquran yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, yaitu ayat pertama sampai dengan ayat ke 5 surah Al 'Alaq. Setelah Rasulullah saw menerima ayat permulaan surah Al 'Alaq itu, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan kedinginan. Setelah hilang rasa gentar dan dingin beliau, beliau dibawa Khadijah, istri beliau, ke rumah Waraqah bin Naufal, anak dari saudara ayah Khadijah (saudara sepupu). Maka disampaikanlah semua yang terjadi atas diri Rasulullah di gua Hira' itu kepada Waraqah: "Yang datang kepada Muhammad itu adalah seperti yang pernah datang kepada nabi-nabi sebelumnya; karena itu yang disampaikan malaikat Jibril itu adalah agama yang benar-benar berasal dari Allah SWT. Kemudian Waraqah mengatakan bahwa ia akan mengikuti agama yang dibawa Muhammad itu jika umurnya dipanjangkan Allah SWT.[11]

3.      Tafsir Ayat
Al-Qalam adalah surat ke-68, diturunkan di Mekah pada awal kenabian, pada urutan ke-2, setelah surat al-Alaq dan sebelum surat al-Muzammil. Sebagian ulama berpendapat urutannya terbalik, surat al-Muzammil pada urutan ke-2 dan al-Qalam sesudahnya. Nama surat ini al-Qalam atau pena, surah ini sangat berhubungan dengan surah yang akan kita bahas juga setelah surah ini, yaitu surat al-Alaq, yang menyatakan bahwa Tuhan mengajarkan manusia dengan pena. Menarik bahwa kedua surat paling awal ini menyinggung peranan pena sebagai alat belajar mengajar. Bahkan, surat ini diberi nama al-Qalam, pena. Sebuah isyarat agar kaum muslimin manjadi umat terdidik. Surat ini dimulai dengan huruf muqatha’at, “nuun” disusul dengan sumpah pena. Huruf “nuun” oleh sebagian ulama melambangkan tinta atau tempat tinta sebagai pasangan pena.
ن  (Nuun)
Menurut tafsir yang dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia dijelaskan sebagai berikut, bahwa para mufasir berbeda pendapat tentang arti huruf “nuun” sebagaimana huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah Karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya.
Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad saw semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.[12]
Hamka menafsirkan “nuun” itu bukan semata-mata huruf “nun lengkung bertitik satu di atas”, yaitu huruf yang ber-makhraj di pertemuan ujung langit-langit dan dikeluarkan melalui hidung, yang dinamai juga huruf “sengau”. Hamka menyebutkan dalam tafsir Al-Azhar bahwa “Nuun” adalah sebuah nama ikan besar di laut sebangsa ikan paus. Ikan itulah yang menelan Nabi Yunus ketika beliau meninggalkan negerinya karena kecewa melihat kekufuran kaumnya.[13]
Penafsiran ikan bernama “nuun” yang menelan Nabi Yunus ini dihubungkan dengan ayat-ayat terahir dari surat ini, yaitu ayat 48, 49, dan 50. Karena tiga ayat tersebut menceritakan tentang Nabi Yunus yang ditelan ikan. Penafsiran ini dikuatkan oleh surah al-Anbiya ayat 87 menyebut Nabi Yunus dengan Zan Nun. Menurut Ar-Razi tafsir demikian diterima dari Ibnu Abbas, Mujahid, Muqatil, dan As Suddi.
Tetapi, penafsiran huruf “nuun” dangan ikan “nuun” yang menelan Nabi Yunus, menurut Hamka tidak dapat diterima jika dibandingkan dengan ayat-ayat selanjutnya, yang isinya memuji keagungan Nabi Muhammad saw yang tahan dan sabar dalam perjuangan. Sudah terang bahwa Nabi Yunus ditelan oleh ikan Nun (sebangsa paus) beberapa hari lamanya adalah suatu peringatan kepada seorang Nabi Yunus yang berkecil hati ketika melihat kekafiran kaumnya, lalu beliau meninggalkan tugasnya.[14]
Sehingga, tidaklah layak peringatan kepada Nabi Muhammad saw ialah ikan Nun yang menelan Nabi Yunus, karena Nabi Muhammad saw tidaklah pernah sejenak pun meninggalkan kaumnya, bahkan selalu menghadapi tugasnya dengan hati tabah. Hijrahnya ke Madinah bukanlah merupakan pelarian dari tugas, namun salah satu mata rantai rencana penyempurnaan tugas. Tetapi, Hamka pun menyebutkan riwayat lain dari Ibnu Abbas, arti Nuun ialah dawat atau tinta.[15]
Mengenai penafsiran nuun bermakna tinta, lebih dahsyat lagi misteri ayat ini diungkap para sufi dengan perspektif sangat berbeda dibanding makna dalam kitab-kitab tafsir kontemporer. Ternyata tiga komponen dalam ayat ini, yaitu nun, qalam, dan lembaran menjadi asal usul segala ciptaan Tuhan. Aziz Al-Din Nasafi (Wafat 695H/1295M), seorang sufi yang pikirannya banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi, menjelaskan bahwa “nuun” adalah “bak tinta”. Penafsiran “nuun”, sebagai “bak tinta” atau “kolam tinta” ini karena “nuun” dihubungkan dengan surah Al-Kahfi ayat 109, “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.[16]
Berbeda dengan Ibnu Arabi yang mengartikan “nuun” dengan malaikat yang diperintah untuk menggunakan pena itu untuk menulis. Bagi Ibnu Arabi, nuun ialah malaikat yang melukis semua kejadian. Sang penulis memiliki pengetahuan majemuk dan beraneka ragam. “Nuun” dan pena-nya aktif memberi pengaruh, sedangkan lembaran atau kanvas tempat menuangkan tulisan bersifat reseptif. Jadi, menurutnya, “nuun wa alqalam wa ma yasthurun” adalah hierarki antara Tuhan dan makhluk-Nya. Menurut Ibnu Arabi, pena adalah akal dan lembaran adalah jiwa. Hubungan antara akal dan jiwa sama dengan hubungan antara pena dan lembaran.[17]
وَلْقَلَمِ  (Demi Pena)
Menurut Ibnu Katsir, kata “wal qalami”  (demi kalam), secara lahiriyah berarti demi pena yang digunakan untuk menulis. Seperti firman Allah Ta’ala "Dia yang mengajarkan dengan qalam" (QS Al-Qolam Ayat 4).  Wa al-qalam (demi pena) adalah sumpah Tuhan (qasm) pertama dalam Alquran yang turun tidak lama setelah lima ayat pertama: Iqra’ bi ismi Rabbikalladzi khalaq, khalaqa al-insana min alaq, iqra’ warabbuka al-akram, alladzi ‘allama bi al-qalam, ‘allama al-insana ma lam ya’lam.[18]
Dalam Tafsir al-Misbah, al-Qalam bisa berarti pena tertentu atau alat tulis apa pun termasuk komputer. Ada yang berpendapat bahwa al-Qalam bermakna pena tertentu seperti pena yang digunakan oleh para malaikat untuk menulis takdir baik dan buruk manusia serta segala kejadian yang tercatat dalam Lauh Mahfuz atau pena yang digunakan oleh para sahabat untuk menuliskan al-Qur’an dan pena yang digunakan untuk menuliskan amal baik dan  amal buruk yang dilakukan manusia.[19]
Namun, pendapat ulama yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pena adalah alat tulis apa pun termasuk komputer adalah pendapat yang lebih tepat karena sejalan dengan kata perintah iqra’ (bacalah). Allah seakan bersumpah dengan manfaat dan kebaikan yang diperoleh dari pena. Hal ini mengisyaratkan anjuran untuk membaca karena banyak manfaat yang diperoleh dengan membaca dengan syarat membacanya disertai dengan nama Tuhan (bismirabbik) dan mencapai keridaan Allah.[20]
Ada yang memahaminya dalam arti sempit yakni pena tertentu, ada juga yang memahaminya secara umum yakni alat tulis apapun, termasuk komputer tercanggih. Yang memahaminya dalam arti sempit ada yang memahami sebagai pena yang digunakan malaikat untuk memcatat takdir baik dan buruk serta segala kejadian dan makhluk yang kesemuannya tercatat dalam Lauh Mahfuzh, atau pena yang digunakan malaikat menulis amal-amal baik dan buruk setiap manusia, atau pena sahabat Nabi menulis al-Qur’an. Quraisy Shihab memahaminya secara umum, lebih tepat karena sejalan dengan perintah membaca (iqra’) yang merupakan wahyu pada lima ayat pertama surah al-Alaq.[21]
Pertanyaan berikutnya ialah mengapa dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan al-Qalam (pena) dan segala macam yang dituliskan dengannya? Dalam Tafsir Departemen Agama (Depag) dijelaskan bahwa suatu sumpah dilakukan adalah untuk meyakinkan pendengar atau yang diajak berbicara bahwa ucapan atau perkataan yang disampaikan itu adalah benar, tidak diragukan sedikit pun. Akan tetapi, sumpah itu kadang-kadang mempunyai arti yang lain, yaitu untuk mengingatkan kepada orang yang diajak berbicara atau pendengar bahwa yang dipakai untuk bersumpah itu adalah suatu yang mulia, bernilai, bermanfaat, dan berharga. Oleh karena itu, perlu dipikirkan dan direnungkan agar dapat menjadi iktibar dan pengajaran dalam kehidupan.[22] Dalam hal ini, Allah seakan memberitahukan bahwa betapa mulianya dan pentingnya pena itu, sampai-sampai Allah bersumpah dengannya.
Sumpah dalam arti kedua adalah Allah bersumpah dengan qalam (pena) dan segala yang dituliskannya untuk menyatakan bahwa qalam itu termasuk nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada manusia, disamping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Dengan qalam, orang dapat mencatat ajaran Agama dari Allah yang disampaikan kepada rasul-Nya, dan mencatat semua  pengetahuan Allah yang baru ditemukan. Dengan surat yang ditulis dengan qalam, orang dapat menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya. Dengan qalam, orang dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya.
Tentang qalam, atau yang disebut dengan pena, yang diambil dari sumpah utama oleh Tuhan. Dalam Tafsir Al-Azhar terdapat pelbagai ragam tafsir, ada yang mengatakan bahwa mula-mula sekali yang diciptakan oleh Tuhan dari makhluknya ialah qalam atau pena. Disebutkan pula, bahwa panjang qalam ialah sepanjang diantara langit dan bumi, serta tercipta dari nur yang artinya cahaya. Kemudian Allah swt memerintahkan kepada qalam daripada Nur itu agar dia terus-menerus menulis, lalu dituliskannya apa yang terjadi dan apa yang ada ini, baik ajal, atau amal perbuatan.[23]
Ada pula yang menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dengan yang mula-mula diciptakan Tuhan ialah qalam, artinya akal. Tetapi oleh karena hadits Nabi, yang dirawikan oleh Imam Ahmad bin Hambal dari Hadits al-Walid bin Ubaddah bin Tsamit. berbunyi, “Yang mula-mula diciptakan Allah ialah qalam, lalu diperintahkan Allah supaya ia menulis. Maka bertanyalah ia kepada Tuhan: “apa yang mesti hamba tuliskan ya Tuhan?”. Tuhan menjawab, tuliskan segala apa yang telah aku takdirkan (Aku tentukan sampai akhir zaman)”
Al-Qadhi memberikan tafsir bahwa isi hadits diatas ialah semata-mata majaz, artinya kata perlambang. Sebab, tidaklah mungkin sebuah alat yang telah digunakan khusus untuk menulis, bahwa dia akan hidup berakal, sampai dia mesti diperintah Tuhan dan dilarang. Mustahil dapat dikumpulkan jadi satu sebuah alat guna menulis lalu lalu makhluk bernyawa dapat diperintah. Maka bukanlah qalam itu perintah, melainkan berlakulah qudrat iradat Allah atas makhluk-Nya dan terjadilah apa yang telah Allah kehendaki dan tentukan, dan tertulislah demikian itu sebagai taqdir Allah.[24]
Disini Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa, para ulama berbeda pendapat. Sesungguhnya apa yang pertama kali Allah ciptakan, pena, semua makhluk, atau arsy?. Pertama, ada yang berpendapat, yang benar adalah bahwa al-arsy diciptakan terlebih dahulu sebelum pena, sesuai dengan hadits sahih yang berasal dari Abdullah Ibn Umar. Menurutnya Rasulullah saw bersabdah, “Allah menetapkan takdir setiap makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Al-Arsy-Nya berada diatas air”.
Dari sini jelas sekali bahwa penetapan takdir terjadi sesudah penciptaan al-Arsy, di awal penciptaan pena. Sabda Nabi saw, “yang pertama kali diciptakan Allah adalah, pena” bisa jadi berupa satu kalimat atau dua kalimat. Jika ia merupakan satu kalimat, dan itulah yang benar, maka artinya ketika awal penciptaannya, Allah berkata padanya, “Tulislah!”, dengan menashobkan kata أَوّلَ (yang pertama) dan اَلْقَلَمَ (pena).
Sementara, jika ia dua kalimat, maka diriwayatkan dengan kata اَوَّلُ dan اَلْقَلَمَ dalam kondisi rafa’. Dengan demikian, ia merupakan makhluk yang pertama di alam semesta. Jadi, kedua hadits tersebut tidak berlawanan. Sebab, dalam hadits Abdullah Ibn Umar jelas sekali bahwa al-Arsy lebih dahulu daripada takdir. Sementara penetapan takdir bersamaan dengan penciptaan pena. Dalam lafal lain, “لَمّاَ خَلَقَ اللهُ القَلم،قالَ لَهُ اُكْتُبْ ” (ketika Allah menciptakan pena, Dia berkata kepada pena, Tulislah!).[25]
 Apa yang mereka tulis وَمايَسْتُرُوْنَ
Menurut Quraisy Shihab, pemahaman “dan apa yang mereka tulis” harus dikaitkan dengan makna al-Qalam. Dengan demikian yang ditunjuk oleh kata “mereka” dapat dipahami dalam arti malaikat, sahabat Nabi, para penulis Wahyu, atau manusia seluruhnya. Kata Ar-Razi ada pula yang menafsirkan bahwa “mereka” disini ialah malaikat-malaikat yang menuliskan segala amal perbuatan manusia. Sebab dalam surah al-Infithar ayat 10, 11, dan 12 tentang malaikat-malaikkat yang mulia yang ditugaskan oleh Allah menuliskan segala amal perbuatan manusia dan menjaganya.
Siapa pun yang dimaksud, yang jelas ماَيَسْتُرُوْنَ adalah tulisan yang dapat dibaca. Dengan demikian Allah seakan bersumpah dengan manfaat dan kebaikan yang dapat diperoleh dari tulisan (the power of writing). Ini secara tidak langsung merupakan anjuran membaca karena dengan membaca, seseorang akan memdapatkan manfaat dan kebaikan yang banyak selama itu dilakukan بإِسْمِ رَبِّكَ, yakni demi karena Allah dan guna mencapai ridha-Nya.[26]
Tetapi, semua penafsiran manusia ialah sejauh kadar akal penafsir. Hamka mencoba mendekatkan tafsir ini dengan realitas kehidupan sehari-hari. Hamka menafsirkan huruf “nuun” ini dengan tinta dan qalam ditafsirkan pula dengan pena yang dipakai untuk menulis. Kemudian, “apa yang mereka tuliskan” ialah hasil dan buah pena ahli-ahli pengetahuan yang menyebarkan ilmu dengan Tulisan. Ketiga benda tersebut dalam kehidupan dari awal sampai saat ini ialah sangat penting bagi kemanusiaan, yaitu “TINTA”, “PENA”, dan “TULISAN”. “Nuun” adalah ‘bak tinta’. Sedangkan qalam adalah pena, yang merupakan substansi pertama atau biasa disebut sebagai akal pertama, dan lembaran (ماَيَسْتُرُوْنَ) ialah lembaran yang terpelihara (lauh mahfuz) atau ummul kitab.
4.      Intisari dan Mamfaat yang diperoleh
Ketika kita ingin mengajak orang kepada kebaikan, tentunya kita harus memiliki ilmu untuk meyakinkan argumentasi kita. Untuk itulah kenapa Ilmu begitu penting, sehingga Allah berfirman dalam surat Al Qalam ayat 1 tentang ilmu ini.
Inilah bekal yang Allah siapkan untuk para dai, agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya dalam rangka menyebarluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa sekarang tapi juga di masa yang akan datang, untuk generasi mendatang.
ayat ini menarik, karena secara tersirat Allah swt menuntun kita agar memperhatikan perkembangan dunia tulisan, yang dahulu kala menggunakan tinta, sekarang sudah melalui dunia maya. Seorang dai harus melek teknologi, karena tulisan era sekarang tidak lagi berupa dalam selembar daun, kertas, atau batu tapi sudah melalui teknologi eBook, internet, dan lain sebagainya.
c.       Q.S al-Alaq (96): 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Artinya :
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

1.      Analisa Kosa Kata
اَلّذِيْ عَلَّمَ
Tuhan yang mengjarkan manusia
باِلْقَلَمِ
Pena, Allah menyediakan Qalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung bagi manusia.

2.      Analisa Teori-teori Studi Tafsir
Tidak ada asbabun nuzul
Kata عَلَّمَ  Secara bahasa berarti pengajaran (عَلَمَ - يُعَلِّمُ - تَعْلِيْما), secara istilah berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan. Menurut Abdul Fattah Jalal, ta’lim merupakan proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya ( ketrampilan). Mengacu pada definisi ini, ta’lim, berarti adalah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’ seperti yang digambarkan dalam surat An Nahl ayat 78
,وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ  
 “dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.
 اَلتَّعْليْم dalam al-qur’an menggunkan bentuk fi’il (kata kerja) dan isim (kata benda), dalam fi’il madliy disebutkan sebanyak 25 ayat dari 15 surat, Fi’il mudlari 16 kali dalam 8 surat.
Kata-kata اَلتَّعْليْم dalam bentuk fi’l madliy (kata kerja lampau) adalah ‘عَلَّمَ  dengan berbagai variasinya, antara lain:
QS. Al-Baqarah : 31وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ|¹
dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
 Al-Maraghi menjelaskan kata ‘عَلَّمَ dengan alhamahu (memberi Ilham), maksudnya Allah memberi Ilham kepada Nabi Adam a.s. untuk mengetahui jenis-jenis yang telah diciptakan beserta zat, sifat, dan nama-namanya. Sebagai mana dalam surah Q.S. Ar-Rahman : 1-4
الرَّحْمَٰنُ
عَلَّمَ الْقُرْآنَ
خَلَقَ الْإِنْسَانَ
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ  
1. (tuhan) yang Maha pemurah,
2. yang telah mengajarkan Al Quran.
3. Dia menciptakan manusia.
4. mengajarnya pandai berbicara.

Kata Allama’ mengandung arti memberitahukan, menjelaskan, memberi pemahaman. QS. Al-‘Alaq : 4-5
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ  
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ash-Shawi, Al-Maraghi, dan Al-Juzi menafsirkan makna ‘allama, dengan makna memberitahukan atau menyampaikan ilmu menulis dengan kalam, menjadikan kalam sebagai alat untuk saling memahami di antara manusia.
At-Ta’lim Dalam HaditsMenurut Al-Asqalani, kata ta’lim nabi kepada umatnya, lai-laki dan perempuan dengan cara tidak mengunakan pendapatnya dan juga qiyas. Secara struktur, kata hum dalam hadits menunjukan makna ta’lim bersifat umum,bagi siapa saja dan tingkatan usia.
Ta’dib, Merupakan bentuk masdar dari kata اَدَّبَ - يُأَدِّبُ - تَأْدِيْبا, yang berarti mengajarkan sopan santun. Sedangkan menurut istilah ta’dib diartikan sebagai proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau budi pekerti pelajar.
Menurut Sayed Muhammad An-Nuquib Al-Attas, kata ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud keberadaan-Nya. Definisi ini, ta’dib mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), pengasuhan (tarbiyah). Oleh sebab itu menurut Sayed An-Nuquib Al Attas, tidak perlu mengacu pada konsep pendidikan dalam Islam sebagai tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib sekaligus. Karena ta’dib adalah istilah yang paling tepat dan cermat untuk menunjukkan dalam arti Islam.
3.      Tafsir Ayat
Salah satu bentuk karamah (kemurahan) Allah adalah apa yang digambarkan dalam kandungan ayat keempat surah Al Alaq ini . ayat-ayat tersebut menyifati Tuhan Yang Maha Pemurah. Dengan demikian rangkain menerangkan sebagian bentuk atau cara Allah SWT dalam melimpahkan Kemurahan-Nya.
Dari segi bahasa qalama ( ﻗﻠﻡ ) berarti “memototong ujung sesuatu” memotong ujung kuku disebut taqlim (ﺘﻘﻟﻴﻡ) tombak panah yang runcing ujungnya dan yang bias digunakan untuk mengundi dinamai juga qalam ( ﻗﻠﻡ ) . sebagaimana telah dijelaskan pada ayat sebelumnya.
Dalam Al Qur’an, kata qalam bentuk tunggal ditemukan dua kali, yaitu pada ayat empat wahyu pertama ini dan pada ayat pertama wahyu kedua.sedangkan dalam bentuk jamak ditemukan dua kali pula, masing-masing pada surah Al-imran ayat 44 dan surah Luqman ayat 27.
Dalam ayat yang ditafsirkan ini, kata yang digunakan, yakni qalam adalah “alat” tetapi yang dimaksud adalah penggunaan alat tersebut, yakni “tulisan”. Pengertian ini ditarik karena sulit digambarkan bagaimana pena yang merupakan alat itu dapat digunakan sebagai pengajaran.
Pemilihan kata qalam, sebagai sebagai pengganti kata kittabah yang berarti “tulisan” di samping untuk penyesuaian akhir kata ayat ini dengan akhir kata ayat sebelum dan sesudahnya, juga untuk menggambarkan pentingnya peranan alat tulis, baik yang sederhana maupun yang canggih.
Guna memahami lebih dalam kandungan ayat keempat dan kelima surah Al-‘Alaq, perlu dikemukakan suatu kaidah yang dikenal di kalangan ahli-ahli bahasa dan yang diterapkan oleh sekian banyak ulama tafsir dalam usaha pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-qur’an. Kaidah tersebut mereka namakan ihtibak. Firman Allah SWT dalam surah Yunus ayat 67 merupakan salah satu contoh yang jelas tentang istilah tersebut:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا
“Dia (Allah) yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya, dan menjadiakan siang terang benderang….”
Dalam ayat di atas terdapat susunan kalimat yang nengandung arti, pertama , Allah menjadikan siang terang benderang. Keterangan “untuk beristirahat” pada susunan pertama dan “terang benderang” pada susunan kedua merupakan isyarat- isyarat tentang adanya keterangan yang tidak disebutkan pada masing-masing susunan kalimat.
Sehingga pada akhirnya, ulama-ulama tafsir menyatakan bahwa ayat tersebut diartikan : “Dia (Allah) yang menjadikan malam (gelap gulita) bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan menjadikan siang terang benderang (supaya kamu tekun bekerja didalamnya). Mufassir Al Alusy menjelaskan, ayat-ayat ini menguraikan bahwa Allah SWT mengajar manusia dengan pena atau tanpa pena. Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa ayat keempat dan kelima surah Al Alaq menjeaskan dua cara yang ditempuh oleh Allah dalam mengajar manusia. Pertama melalui “pena” atau “tulisan” yang harus di baca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat.
Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat. sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatakan bahwa Dia menjadikan manusia dari 'Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, "Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.[27]
4.      Intisari dan Manfaat yang diperole
Allama bil-qalam (yang mengajar dengan qalam). Makna qalam terus berkembang sepanjang zaman, mulai dari alat tulis sederhana, sampai arti qalam di abad modern ini, seperti mesin tik, komputer, mesin-mesin percetakan, cetak jarak jauh, internet, dan kini yang mengagumkan adalah hand phone dengan aneka fungsinya yang terus berkembang. Qalam adalah alat tulis dan alat rekam, sebagai lambang teknologi, karena sesungguhnya Tuhan bisa saja mengajar manusia bukan dengan cara biasa seperti umpamanya ia mengajar para Nabi dan orang-orang tertentu tanpa alat.



C.    Kontektualisasi ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S al-Alaq  (96) : 1
1.      Ayat dan Terjemahannya
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya :
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.      Analisa Kosa Kata
اِقْرأْ
Bacalah, perintah pertama jibril kepada Nabi Muhammad
باِسْمِ رَبِّكَ
Mulailah membaca Al-Qur’an dengan nama Tuhanmu
اَلّذِيْ خَلَقَ
Tuhan yang meciptakan segala sesuatu



3.      Analisa Teori-teori Studi Tafsir
Asbabunnuzul ayat diatas Disebutkan dalam hadits-hadits shahih, bahwa Nabi SAW mendatangi gua hira’ (hira’ adalah nama gunung di Makkah) untuk tujuan beribadah selama beberapa hari, beliau kembal kepada istrinya, Siti Khadijah untuk mengambil bekal secukupnya. Hingga pada suatu hari di dalam gua, beliau dikejutkan oleh kedatangan malaikat membawa wahyu Illahi. Malaikat berkata kepadanya : “Bacalah!” beliau menjawab “Saya tidak bisa membaca”. Perawai mengatakan bahwa untuk kedua kalinya malaikat memegang nabi dan mengguncangkan badannya hingga nabi kepayahan, dan setelah itu dilepaskan. Malaikat berkata lagi kepadanya “Bacalah!” Nabi menjawab “Saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa untuk ketiga kalinya malaikat memrgang nabi dan mengguncangkannya hingga beliau kepayahan.[28]
Jika diamati, objek mambaca pada ayat-ayat yang menggunakan akar kata qara’a, (قرأ)  terkadang berupa bacaan yang bersumber dari Allah, seperti Al-Qur’an dan kitab suci sebelumnya, misalnya QS. Al-A’raf: 204, dan QS. Yunus: 94. Terkadang juga objeknya adalah suatu kitab yang merupakan himpunan karya manusia atau dengan kata lain bukan bersumber dari Allah, misalnya QS. Al-Isro’: 14

4.      Tafsir Ayat
Menurut Quraish Shihab, kata iqra (إِقرأ)terambil dari kata kerja qara’a (قرأ) yang pada mulanya berarti “menghimpun”. Apabila kita merangkai huruf atau kata kemudian kita mengucapkan rangkaian kata tersebut, maka kita telah menghimpunnya. Arti asal kata ini menunjukkan bahwa iqra’ (إِقرأ), yang diterjemahkan dengan “bacalah”, tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karenanya, kita dapat menemukan beraneka ragam arti dari kata tersebut dalam kamus-kamus bahasa, antara lain, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang semuanya bisa dikembalikan kepada hakikat “menghimpun”.[29]
Menurut Yusuf Qardhawi, kata iqra’ (إِقرأ) secara etimologi berarti membaca huruf-huruf yang tertulis dalam buku-buku. Sedangkan secara terminologi, yakni membaca dalam arti yang lebih luas. Maksudnya membaca alam semesta (ayat al-kaun).[30]
Sedangkan menurut Al-Maraghi sebagaimana yang dikutip oleh Abuddin Nata dalam bukunya yang berjudul “tafsir ayat-ayat pendidikan”, bahwa kata iqra’(إِقرأ) dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1 dapat diartikan “jadilah engkau (Muhammad) seorang yang pandai membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang telah menciptakanmu, walaupun sebelumnya engkau tidak dapat melakukannya”.[31]
Menurutnya pula, pengulangan kata iqra’ (إِقرأ) pada QS. ‘Alaq ayat 3 didasarkan pada alasan bahwa membaca itu tidak akan membekas dalam jiwa kecuali dengan diulang-ulang dan membiasakannya sebagaimana dalam tradisi. Perintah Tuhan untuk mengulang membaca berarti pula mengulangi apa yang dibaca. Dengan cara demikian bacaan tersebut menjadi milik orang membacanya. Kata iqra’ (إِقرأ) mengandung arti yang amat luas, seperti mengenali, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan, dan membuktikan.[32]
Di sini juga terdapat perbedaan antara “membaca” yang menggunakan akar kata qara’a (قرأ)  dengan “membaca” yang menggunakan akar kata tala, di mana kata terakhir ini digunakan untuk bacaan-bacaan yang sifatnya suci dan pasti benar, misalnya QS. Al-Baqarah: 252, dan QS. Al-Bayyinah: 2.
Di lain segi, dapat dikemukakan suatu kaidah bahwa suatu kata kerja dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa karena dalam QS. Al-‘Alaq kata qara’a (قرأ) digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan, dan sebagainya, dan karena objeknya tidak disebutkan sehingga bersifat umum, maka objek kata tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau, baik itu ayat suci Al-Qur’an, alam raya, masyarakat, diri sendiri, majalah, koran, dan sebagainya.[33]
Menurut Iskandar AG Soemabrata, dengan kata lain iqra’ (إِقرأ)  juga dapat dipersamakan dengan melihat, sekaligus mengamati dan memperhatikan, serta merekam dalam ingatan objek apa saja yang ada dihadapan kita, sehingga nantinya dapat mengambil manfaat dari apa yang kita perhatikan itu. Karena iqra’ (membaca) sebenarnya tidak terbatas pada ayat-ayat yang tertulis saja (ayat-ayat qauliyah), tetapi juga membaca ayat-ayat yang tidak tertulis yang ada pada alam ini (ayat-ayat kauniyah).[34]
Dalam QS. Al-‘Alaq, perintah membaca, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan “بِإسْمِ ربّكَ” (dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut si pembaca bukan saja agar membaca dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu. Karena yang memerintah membaca adalah Tuhan yang mendidik, memelihara, mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki keadaan makhluk-Nya.[35]
Kata “pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah تَرْبِيّةُ   dengan kata kerja “رَبَّ”. Kata “pengajaran” dalam bahasa arab adalah “Ta’lim” (تَعْلِمْ) dengan kata kerjanya “allama” عَلَّمَ
Di dalam masyarakat Islam sekurang-kurangnya tiga istilah yang digunakan untuk menandai konsep pendidikan, yaitu tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Istilah yang sekarang berkembang secara umum di dunia arab adalah تَرْبِيّةُ. 
Kata kerja رَبَّ ( mendidik) sudah digunakan pada zaman Nabi Muhammad SAW seperti terlihat dalam ayat al-Qur’an sebagai berikut :
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا|¹
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(Q.S. Al-Israa’/17:24).
 Dalam ayat lain kata ini digunakan dalam susunan
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ
Fir`aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga)   kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.(Q.S. Asy-Syu’araa’/26:18)
Kata تَرْبِيّةُ berakar pada tiga kata. Pertama , kata, rabaa, yarbuu yang berarti bertambah dan tumbuh. Kedua kata  رَبِيَ, يَرْبى yang berarti tumbuh dan berkembang. Ketiga, kata, رَبَّ، يَرُبُّ, yang berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan dan memelihara.
Kata اَلتّرْبِيّةُ (at-tarbiyah) diterjemahkan menjadi pendidikan, pengasuhan dan pemeliharaan.  Abdurrahman al-Nahlawi salah seorang pengguna istilah تَرْبِيّةُ, berpendapat bahwa pendidikan berarti:
1.    memelihara fitrah anak,
2.    menumbuhkan seluruh bakat dan kesiapannya,mengarahkan fitrah dan seluruh bakatnya agar menjadi baik dan sempurna, serta
3.    bertahap dalam prosesnya.
Dalam kode bahasa biasa kata kerja khalaqa berkisar ada medan makna “penyiapan”,”penyediaan”, dan “perencanaan” bagi satu tindakan, realisasi, dan pelaksanaan. Karena itu, makna al-khalaq (perencanaan) dibedakan dari al-fary yang berarti pelaksanaan, realisasi, dan tindakan nyata yang menyusuli perencanaan, penyiapan, dan penyediaan. Kedua kata itu sendiri dalam pemakaian asalnya merupakan istilah yang idunakan dunia kerajinan tangan, khususnya di bidang perkulitan. Selanjutnya, dalam pemakaian bahasa prea al- Quran keduanya telah bergerser pada makna literalnya ini menjadi makna metaphor. Zuhair misalnya,
            Anda benar-benar berbuat (tafri)
Segala yang anda rencanakan (ma khalaqa)
Kebanyakan orang rajin merencana (yakhluqu)
Tanpa berbuat apa-apa (la yafri’)
Pola yang sama juga digunakan dalam pujian ini
Jika anda berjandi pasti ditepati
Dan jika anda berencana (khalaqta) pasti terlaksana (faraita)
Pada konteks evolusi makna berikutnya, pemakaian metaforik terhadap dua kata di atas lama-kelamaan menjadi metaphor yang mati. Artinya, ia kembali menjadi bgian dari pemakaian bahasa biasa yang nonmetaforik. Penggunaan semacam ini terdapat pula dalam Al-Qur’an, yaitu dalam firman Allah yang mengisakhan ucapan Isa a.s kepada kaumnya “sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda dari Tuhamu, yaitu aku membentuk (yakhluku) serupa burung dari tanah, kemudian aku meniupnya, maka ia pun menjadi seekor burung atas izin Allah. Begitu pula terdapat dalam seruan Allah kepada Isa : “ ingatlah waktu kamu membentuk ( yakhluqu) serupa burung dengan izinku. Ath-Thabari menafsirkan makna al-khalaq dalam ayat-ayat diatas yang baru disinggung sebagai “pembentukan”[36]
5.      Intisari dan Manfaat yang diperoleh
Manusia sepatutnya tunduk kepada Allah, bukan kepada alam dan segala yang diciptakan اللَذِيْ خلَكَ, karna Allah lah yang menciptakan alam ini,.
Ayat ini mengandung perintah agar mamusia memiliki keimanan, yaitu berupa keyakinan terhadap adanya kekuasaan dan kehendak Allah, juga mengandung pesan ontologis tentang sumber ilmu pengetahuan. Ayat-ayat Allah terdiri dari yang tertulis (Al-Qurán), tidak tertulis (keadaan jagat raya), dan yang ada pada diri manusia. Dari berbagai ayat tersebut jika telaah secara cermat, diobseravasi, diidentifikasi, dikategorikan, dibandingkan, dianalisa, dan disimpulkan dapat menghasilkan ilmu pengetahuan[6]. Membaca ayat-ayat Allah didalam Al-Qurán dapat menghasilkan ilmu agama Islam seperti; Fiqh, Tauhid, Akhlak dsb. Membaca ayat-ayat Allah yang ada di jagat raya dapat menghasilkan sains seperti Fisika, Biologi, Kimia, Astronomi, Geologi, Botani, dsb.  Selanjutnya membaca ayat-ayat Allah yang ada pada diri manusia dari segi fisiknya  menghasilkan ilmu kedokteran, ilmu tentang raga, dan dari segi tingkah lakunya menghasilkan ilmu ekonomi, ilmu politik, sosiologi, antropologi, dsb. Pemanfaatan ilmu-ilmu tersebut harus ditujukan dengan mendekatkan diri dan terus beribadah kepada Allah SWT.
D.    Kontektualisasi ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S Q.S  al-Baqarah (2): 260
1.      Ayat dan Terjemahannya
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌLìÅ3ym

Artinya :
Dan (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, Kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


  1. Analisa kosa kata
رَبِّ اَرِنِيْ
Nabi Ibrahim memohon kepada Allah, Ya Allah Tunjukkan padaku
كَيْفَ تُحْيِ الْمَوُتىَ
Bagaimana engkau menghidupkan sesuatu yang sudah mati
اَوَلَمْ تُۏْمِنُ
Apakah kamu tidak percaya
وَلٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ
saya ingin agar hatiku tenang dan agar saya sampai kepada derajat keyakinan yang sebenar-benarnya.
فَخُذْ اَرْبَعَةَ مِنَ الطَيْرِ
Ambillah empat ekor burung
فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ
Cingcanglah burung burung itu
اِجْعَلْ عَلى كُلِّ جَبَلِ
Letakkan burung-burung yang sudah dicingcang itu ditiap tiap bukit
مِنْهُنَّ جُزْءَ
Setip potong, bagian bagian yang telah di cingcang
ادْعُهُنَّ يأْتِيْنَكَ سَعْياَ
Panggillah burung itu, niscara meraka akan dating degan cepat, maksudnya terbang tidak berjalan kaki
عَزِيْز حَكِيْم
Penetapan dua nama dari nama-nama Allah Ta’ala, yaitu (العزيز): “Maha Perkasa”, dan (الحكيم): “Maha Bijaksana”, dan penetapan dari apa yang terkandung padanya berupa sifat.



  1. Analisa teori-teori studi tafsir
Sebagian ahli tafsir seperti Hasan al-Bashri, Aththa al-Hurasani, adh-Dhahak dan Ibnu Juraij, menyebutkan sebab dari permintaan Ibrahim 'alaihi sallam kepada Allah Ta’ala, adalah bahwa Ibrahim melewati bangkai binatang, berkata Ibnu Juraij: “Bangkai keledai di tepi pantai”, berkata Aththa: “Danau Thabariah”. Mereka mengatakan: “Bahwa bangkai tersebut sudah dicabik-cabik oleh binatang darat dan laut, jika air laut pasang, maka datanglah ikan dan hewan laut lainnya, maka mereka memakan sebagian darinya, dan sebagian dari sobekan daging dari bangkai yang terjatuh dari mulut ikan di bawa oleh air (ketempat yang jauh –red), setelah air laut surut, maka datanglah binatang buas, merekapun memakan sebagian darinya, dan sebagian dari sobekan daging dari bangkai yang terjatuh dari mulut binatang buas telah menjadi debu, jika binatang buas pergi, maka datanglah burung, merekapun memakan sebagian darinya, dan sebagian dari sobekan daging dari bangkai yang terjatuh (dari paruh burung) telah di tiup angin (ke tempat yang jauh), ketika Ibrahim melihat kejadian tersebut, maka ia heran karenanya, dan berkata: “Ya Tuhanku sungguh aku telah mengetahui bahwa engkau akan mengumpulkannya(jasad dari bangkai tersebut), maka perlihatkanlah kepadaku bagaimana caramu menghidupkannya, agar aku mengetahuinya”.[37]
Hadis yang berkaitan dengan ayat diatas adalah :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ وَسَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ أَحَقُّ بِالشَّكِّ مِنْ إِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ { رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ {لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي
Aku lebih berhak untuk ragu dari pada Ibrahim 'Alaihis Salam ketika ia berkata; Wahai Tuhanku perlihatkanlah kepada saya bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yg telah mati, Allah berfirman: Apakah kamu tak beriman?
Ibrahim berkata; Tentu aku telah beriman, hanya agar hatiku lebih mantap. [HR. Bukhari No.4173].

  1. Tafsir ayat
Pendapat diatas adalah menurut At-Thabari dan ibnu Katsir, sedang menurut abu muslim Al Ashfahani pengertian ayat diatas bahwa Allah memberi penjelasan kepada nabi Ibrahim a.s. tentang cara dia menghidupkan orang-orang yang mati. Disuruh-Nya nabi Ibrahim a.s. mengambil empat ekor burung lalu memeliharanya dan menjinakkannya hingga burung itu dapat datang seketika, bilamana dipanggil. Kemudian, burung-burung yang sudah pandai itu, diletakkan di atas tiap-tiap bukit seekor, lalu burung-burung itu dipanggil dengan satu tepukan/seruan, niscaya burung-burung itu akan datang dengan segera, walaupun tempatnya terpisah-pisah dan berjauhan. Maka demikian pula Allah menghidupkan orang-orang yang mati yang tersebar di mana-mana, dengan satu kalimat cipta hiduplah kamu semua Pastilah mereka itu hidup kembali. jadi menurut abu muslim sighat amr (bentuk kata perintah) dalam ayat ini, pengertiannya khabar (bentuk berita) sebagai cara penjelasan. pendapat beliau Ini dianut pula oleh Ar Razy dan Rasyid Ridha.
Jika kita pikirkan, ayat ini memberikan gambaran bagaimana perjalanan Nabi Ibrahim dalam mencari keyakinan pada Tuhan. Nabi Ibrahim ingin memantapkan keyakinannya kepada Tuhan. Dengan panduan dari Tuhan, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk melakukan percobaan (eksperimen). Lalu Nabi Ibrahim diberi sebuah metode oleh Tuhan untuk membuktikan keberadaan-Nya. Metode itu adalah “Allah berfirman: ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dalam dunia ilmu pengetahuan metode ini kita kenal metode eksperimen atau percobaan.
Kisah Nabi Ibrahim ini memberi petunjuk kepada kita, bahwa keyakinan itu perlu kita tingkatkan. Dari yakin menjadi haqul yakin. Untuk mencapai derajat haqul yakin (keimanan yang mantap) manusia harus membuktikan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan Tuhan. Nabi Ibrahim menyadari bahwa dirinya makhluk rasional dan nyata (empiris). Untuk meningkatkakan keyakinannya terhadap Tuhan, Nabi Ibrahim meminta pembuktian nyata tentang kebenaran adanya Tuhan. Untuk itu Nabi Ibrahim melakukan percobaan sesuai dengan perintah Tuhan.
Diayat ini menjelaskan bahwa Allah telah membuat masing-masing burung kembali pada bentuknya semula. Semua potongan Ibrahim yang dicerai-beraikannya kembali menyatu dan membentuk kehidupan seperti sebelumnya hingga Ibrahim pun akhirnya yakin dengan apa yang dilihatnya. Dengankeyakinan ini maka sempurnalah pemahaman nya dan hal ini menunjukkan bahwa untuk merevisi pemikirn dan analisis, butuh satu visualisasi hingga dengannya tidak dibutuhkan lagi dalil dan petunjuk lainnya serta hilanlah keraguan yang bersarang dalam hati.
Sungguh apa yang dialami Ibrahim adalah bukti nyata akan adanya kehidupan setelah kematian. Rahasia ini seolah diungkap langsung oleh Sang Pencipt hingga manusia mampu memahami ekstensinya. Rahasia ini terjadi dalam setiap saatnya. Manusia hanya bisa merasakan dampaknya setelah ia mengalaminya secara langsung. Inilah rahasia kehidupan.
  1. Intisari dan manfaat yang diperoleh
  • Bahwa (عين اليقين): “Keyakinan yang di peroleh dengan melihat secara langsung” lebih kuat dari pada (خبر اليقين): “Keyakinan yang di peroleh dari kabar”, ini sesuai firman Allah Ta’ala : (أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى): “Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Karena Ibrahim ‘alaihi sallam telah mempunyai (خبر اليقين): “Keyakinan yang di peroleh dari kabar” bahwa Allah Mampu untuk melakukan hal tersebut, akan tetapi dia menginginkan (عين اليقين): “Keyakinan yang di peroleh dengan melihat secara langsung”.
  • Bertanya adalah kunci mengetahui sesuatu, sebagai mana Nabi Ibrahim bertanya kepada Allah, dalam pertanyaan ada subjek da ada objek yang ditanyakan, setiap orang memiliki perbedaan dalam pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya,
  • Bahwa Allah itu maha perkasa lagi maha bijaksana, karna Dia bisa menghidupkan yang mati
  • Ayat ini menunjukan penetapan keyakinan kehidupan yang kedua (setelah kematian) yaitu dengan dibangkitkannya para makhluk untuk hari perhitungan dan hari pembalasan.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dari seluruh pembahasan dan penafsiran ayat-ayat diatas adalah suatu keharusan bagi kami untuk menyimpulkan, sekedar untuk mengingatkan dan memudahkan bagi pembaca dan mudah-mudahan bisa bermanfaat dan berguna.
1.      Pengertian kontekstualisasi dan media. Bila kita kaitkan dengan kontekstualisasi ayat didalam Al-Quran yang berkaitan dengan penggunaan media, adalah, menjelaskan suatu ayat secara eksplisit yang berhubungan dengan ayat yang lain secara utuh, sehingga menambah kejelasan makna ayat itu dengan bantuan media untuk memudahkan mencapai tujuan yang di inginkan. Baik itu berupa media audio, media visual, media cetak, dll.
2.      Q.S Ali-Imran (3) : 44. Ayat ini menekankan kepada kita bahwa tidak ada seseorang pun yang bisa mengetahui hal-hal yang gaib kecuali melalui wahyu, meskipun dia itu adalah seorang Nabi, karna itu merupakan rahasia Allah SWT,  
3.      Q.S Al-Qalam (68) : 1. Setelah Allah memerintahkan kita untuk اِقْرأْ (membaca) dalam arti luas, lalu pada surah berikutnya yang turun Allah mengajarkan kepada manusia untuk memakai media (اَلْقَلَمِ), yang berperan sebagai alat atau media yang digunakan untuk belajar-mengajar, dalam hal ini buku, tablet, hand phone, komputer dan semacamnya, juga termasuk media yang dimaksud ayat tersebut, sebagai isyarat kepada kaum muslim agar menjdi umat yang terdidik.  adapun Allah bersumpah dengan qalam (pena) dan segala yang dituliskannya, adalah untuk menyatakan bahwa qalam itu termasuk nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada manusia, disamping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Dengan qalam, orang dapat mencatat ajaran Agama dari Allah yang disampaikan kepada rasul-Nya, dan mencatat semua  pengetahuan Allah yang baru ditemukan. Dengan surat yang ditulis dengan qalam, orang dapat menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya. Dengan qalam, orang dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya.
4.      Q.S al-Alaq (96): 4. Makna Qalam terus berkembang sepanjang zaman, mulai dari alat tulis sederhana, sampai arti qalam di abad modern ini, seperti mesin tik, komputer, mesin-mesin percetakan, cetak jarak jauh, internet, dan kini yang mengagumkan adalah hand phone dengan aneka fungsinya yang terus berkembang. Qalam juga bisa berarti alat tulis dan alat rekam, sebagai lambang teknologi, sehingga manusia bisa mengambil manfaat untuk terus mengembangkan ilmu yang dimilikinya, sesuai dengan dasar-dasar yang telah dijelaskan oleh Al-Qur’an dan Hadis.
5.      Q.S al-Alaq  (96) : اِقْرأْ  (bacalah) secara terminologi, yakni membaca dalam arti yang lebih luas, Maksudnya membaca alam semesta (ayat al-kaun), seperti mengenali, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan, dan membuktikan. Dan اِقْرأْ juga dapat dipersamakan dengan melihat, sekaligus mengamati dan memperhatikan, serta merekam dalam ingatan objek apa saja yang ada dihadapan kita, sehingga nantinya dapat mengambil manfaat dari apa yang kita perhatikan itu. Dan bila dikaitkan dengan “بِإسْمِ ربّكَ” (dengan nama Tuhanmu). Hal ini merupakan syarat sehingga menuntut si pembaca bukan saja agar membaca dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu. Karena yang memerintah membaca adalah Tuhan yang mendidik, memelihara, mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki keadaan makhluk-Nya.
6.      Q.S Q.S  al-Baqarah (2): 260. ayat ini memberikan gambaran bagaimana perjalanan Nabi Ibrahim dalam mencari keyakinan pada Tuhan. Nabi Ibrahim ingin memantapkan keyakinannya kepada Tuhan. Dengan panduan dari Tuhan, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk melakukan percobaan (eksperimen). Lalu Nabi Ibrahim diberi sebuah metode oleh Tuhan untuk membuktikan keberadaan-Nya. dan media yang digunakan oleh Nabi Ibrahim disini adalah berupa burung. Dan kisah ini memberi petunjuk kepad kita bahwa keyakinan itu perlu kita tingkatkan. Dari yakin menjadi haqul yakin. Untuk mencapai derajat haqul yakin (keimanan yang mantap) manusia harus membuktikan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan Tuhan.  


B.     SARAN-SARAN
Saran-saran yang dapat kami berikan kepada pembaca ialah, hendaknya dalam belajar-mengajar itu agar menggunakan semua media yang ada, karna menurut penelitian, penggunaan beberapa media itu terbukti dapat meningkatkan pemahaman dan menguatkan memori otak kita jika dibanding hanya menggunakan medi pendengaran yang kita gunakan selama ini. Untuk itulah kami mengajak kepada pembaca agar tidak henti-hentinya belajar dan menuntut ilmu, dan tidak lupa kami sarankan agar belajar menggunakan media ajar, karna betapapun luas ilmu yang kita miliki tapi tidak bisa menyandangkan dengan kemajuan teknologi saat ini, tentunya pasti akan menemui kesulitan, menurut penelitian yang dilakukan ada tiga ribu aplikasi yang baru setiap detiknya yang masuk dalam perkembangan ilmu teknologi. Oleh karena itulah, kita dituntut untuk terus mengupdate pengetahuan atau ilmu kita, agar kita tidak menjadi bangsa yang tertinggal, Mintalah kepada teman yang sudah tau untuk mengajarkannya,  karna ada hadis yang mengatakan اَلعِلْمُ بِلاَ عَمَلِ كَشَّجَرِبِلا ثَمَر (Ilmu yang tidak di amalkan/ diajarkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.  Akhir kalam اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ



DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, 1985. Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, Semarang; Toha Putra.
Dewan Redaksi, 1994, Suplemen Ensiklopedi Islam, 2, Jakarta, PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Dr. Muhammad Sayyid al-Musayyar, 2009. Alam al-Ghaib Fi al-Aqidah al-Islamiyah, diterjemahkan oleh Iman Firdaus, Taufiq Damas.
Gusmardi, Thesis :  Penafsiran Kontekstual M.Quraish Shihab Terhadap Ayat-Ayat yang Beredaksi Mirip dalam Al-Qur’an, (Padang : PPS IAIN IB,2013)
Hamdani Anwar, Telaah Kritis Tafsir Al-mishbah, Jurnal Mimbar Agama dan Budaya vol XII, No.2,2001
Hamka, 1998. Tafsir Al-Azhar.Singapura:Pustaka Nasional PTE LTD Singapura.
Ibnu Katsir, 1369H/1970M.  Muqaddimah Tafsir Al-qur’an nul’Azhim, Daarul Fikr, Beirut Cet. II..
M. Quraish Shihab, 1992, Membumikan al-Qur’an, Bandung, Mizan.                                     
M. Quraish Shihab, 2005. Tafsir Al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta : Lentera Hati.
Manna' Kholil al-Qattan, 2004, Studi-studi Ilmu al-Qur'an, Bogor, Lintera Antar Nusa.                
Muhammad Nasib ar-Rifaii, 2000.  Taisiruu al-Aliyyul Qadir Li ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, di Terjemahkan Oleh Drs. Sihabuddin, M.A dengan Judul Kemudahan Dari Allah:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta, Gema Insani Press:.
Munawwir, Ahmad Warson, , 1984. Kamus Arab Indonesia, Yogyakarta; Ponpes al-Munawwir.
Nasr Hamid Abu Zaid, 1995. an-Nash as-sultah al-Haqiqah, diterjemahkan oleh sunarwoto dema, Teks Otoritas Kebenaran, penerbit LKiS yagyakarta salakan baru.
Proyek Pengadaan Kitab Suci Al Qur’an Departemen Agama RI, 1983/1984.  Al-Quran Dan Tafsirnya..
Qardhawi, Yusuf, , 1998. al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Gema Insani.
Rasid Rachman, 1999.  Pengantar Sejarah Liturg,i Tangerang: Bintang Fajar.
Shihab, Quraish, , 2007. Membumikan Al-Qur’an : Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung, Mizan Pustaka.
Soemabrata, Iskandar AG, , 2007. Pesan-pesan Numerik Al-Qur’an, Jakarta, Republika.
Syahiron Syamsuddin, 2003, Hermeneutika al-Qur'an : Madzhab Yogya, Yogyakarta., Islamika
Syihab,M.Quraish, 2002. Tafsir Al-Misbah Pesan,kesan dan keserasian Al-  Qur`an. Jakarta : Lentera Hati.
Tafsir Al-Qur’an Al-Karim,  1997.  Tafsir Atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya, Bandung, Pustaka Hidayah.
Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, 2000, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Semarang, Pustaka Rizki Putra.
Http://google.com/search asal-usul kejadian manusia/ diambil pada tanggal 27 september 2014
http://koneksi-indonesia.org/2014/undian-dalam-al-quran, diambil pada tangal 8 November 2014
http://www.alsofwah.or.id/cetakquran.php?id=217, diambil pada tanggal 8 November 2014





















BIODATA PENULIS

1.     Nama                         : H. M. Sabir, S.Ag.
NIM                          : 14-0211-042
Tempat tanggal lahir   : Pinrang, 7 Desember 1968
Pekerjaan                   : Guru
Jenjang pendidikan    : -   SD Negeri Pinrang
-         SMP Negeri 1 Pinrang
-         SMA Negeri 1 Pinrang
-         STAI DDI Pinrang


2.     Nama                         : Muhammad Jufri, S.Ag.
NIM                          : 14-0211-036
Tempat tanggal lahir   : Parepare, 22 Nopember 1972
Pekerjaan                   : Guru
Jenjang pendidikan    : -    MI DDI Ujung Lare  
-         MTsN Parepare
-         MAN 158 Parepare
-         IAIN Parepare


3.     Nama                         : Muhammad Shaleh, S.Sy (elaz)
NIM                          : 14-0211-033
Tempat tanggal lahir   : Parepare 27 April 1979
Pekerjaan                   : Supir
Jenjang pendidikan    : -   MI DDI Ujung Lare
-         MTs DDI Mangkoso
-         MA DDI Al-Furqan Parepare
-         STAIN Parepare





PERTANYAAN DAN JAWABANNYA




[1] Hartono Edu-articles.com - Situs Pendidikan Indonesia, diambil pada tanggal 28-10-2014
[2] Rasid Rachman, Pengantar Sejarah Liturg,i (Tangerang: Bintang Fajar, 1999), hlm.122.
[3] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 3
[4] Arsyad, Azhar. Media Pembelajaran. (Jakarta: Rineka Cipta), 2006.
[5] http://koneksi-indonesia.org/2014/undian-dalam-al-quran, diambil pada tangal 8 November 2014
[6] Dr. Muhammad Sayyid al-Musayyar, Alam al-Ghaib Fi al-Aqidah al-Islamiyah, diterjemahkan oleh Iman Firdaus, Taufiq Damas (cetakan 1 2009), hlm. 36-37
[7] Tafsir Abi al-Su’ud, II h.35
[8] Tafsir al-Thabari, III h.266
[9] http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=68#1
[10] ibid
[11] ibid
[12] Departemen Agama RI, Al- Qur’an Al-Karim wa tafsiruhu (Al-Qur’an dan Tafsirnya) Jilid 5, tahun 2006.
[13] Hamka,Tafsir Al-Azhar.Singapura:Pustaka Nasional PTE LTD Singapura,1998.
[14] ibid
[15] ibid
[16] Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Tafsir Atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1997), hlm. 77-78
[17]  Nata, Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta, Pt. Raja Grafindo Persada, 2002
[18]Muhammad Nasib ar-Rifaii, Taisiruu al-Aliyyul Qadir Li ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, di Terjemahkan Oleh Drs. Sihabuddin, M.A dengan Judul Kemudahan Dari Allah:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Jakarta, Gema Insani Press:200), hlm 798
[19] Ibid. hlm. 79
[20] ibid
[21] Qurish shihab, op-cit, 80
[22] Departemen Agama RI, Al- Qur’an Al-Karim wa tafsiruhu (Al-Qur’an dan Tafsirnya) Jilid 5, tahun 2006.
[23] Tafsir Hamka, op-cit. hlm. 122
[24] Http://google.com/search asal-usul kejadian manusia/ diambil pada tanggal 27 september 2014
[25] ibid
[26] Qurais Shihab, op-cit, hlm. 79
[27] http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=96#5
[30] Yusuf Qardhawi, al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta, Gema Insani, 1998), hlm. 235
[31] Dr. H. Abuddin Nata, MA., Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta, Pt. Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 43. Lihat juga, Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, (Semarang; Toha Putra, 1985), hlm. 326-329
[32] Ibid. hlm 48
[33] Qurash Shihab, Membumikan Al-Qur’an : Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung, Mizan Pustaka, 2007), hlm. 168.
[34] Iskandar AG Soemabrata, Pesan-pesan Numerik Al-Qur’an, (Jakarta, Republika, 2007), hlm. 99.
[35] Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Tafsir Atas Surat-surat Pendek Berdasarkan Urutan Turunnya, hlm. 83.
[36] Nasr Hamid Abu Zaid, an-Nash as-sultah al-Haqiqah, diterjemahkan oleh sunarwoto dema, Teks Otoritas Kebenaran, (penerbit LKiS yagyakarta salakan baru 1995) hlm. 227
[37] http://www.alsofwah.or.id/cetakquran.php?id=217, diambil pada tanggal 8 November 2014