BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam
pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses
belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat
disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat
tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Guru paling tidak,
dapat menggunakan alat yang murah dan efisien meskipun sederhana dan bersahaja
tetapi merupakan keharusan dalam upaya mencapai tujuan pengajaran yang
diharapkan. Disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, guru juga
dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pengajaran yang
akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia. Untuk itu guru harus
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pengajaran.
Alat / Media merupakan
sarana yang membantu proses pembelajaran terutama yang berkaitan dengan indera
pendengaran dan penglihatan, bahkan adanya alat / media tersebut dapat mempercepat
proses pembelajaran murid karena dapat membuat pemahaman murid lebih cepat
pula. Penggunaan media pengajaran dalam proses pengajaran sangat dianjurkan
untuk mempertinggi kualitas pengajaran.
Media pembelajran itu
sendiri, sebenarnya sudah ada dan diaplikasikan sejak zaman Rasulullah saw.
Rasulullah adalah sosok pendidik yang agung bagi umat manusia. Beliau dalam
mengajarkan ilmu pengetahuan kepada sahabat-sahabatnya tidak lepas dari adanya
media sebagai sarana penyampaian materi ajarnya. Seperti Rasulullah menggambar
dan membuat garis-garis ketika sedang menyampaikan ajarannya kepada para
sahabatnya. Hal ini membuktikan bahwa kebenaran tentang adanya media
pembelajaran sudah ada sejak zaman dahulu, yaitu sejak zaman Rasulullah saw.
Bila kita perhatikan
banyak orang yang cenderung melupakan apa yang telah mereka dengar, Salah satu
jawaban yang menarik adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara
guru dengan tingkat kemampuan peserta didik mendengarkan apa yang disampaikan
guru. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menit, sementara anak
didik hanya mampu mendengarkan 50-100 kata per menitnya (setengah dari apa yang
dikemukakan guru), karena peserta didik mendengarkan pembicaraan guru sambil
berpikir. Kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam
suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu
pengucapan. Otak manusia selalu mempertanyakan setiap informasi yang masuk ke
dalamnya, dan otak juga memproses setiap informasi yang ia terima, sehingga
perhatian tidak dapat tertuju pada stimulus secara menyeluruh. Hal ini
menyebabkan tidak semua yang dipelajari dapat diingat dengan baik.
Penambahan visual pada
proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan semula.
Dengan penambahan visual di samping auditori dalam pembelajaran kesan yang
masuk dalam diri anak didik semakin kuat sehingga dapat bertahan lebih lama
dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini
disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki peserta didik saling
menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual), dan apa yang
dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran). Dalam arti kata pada pembelajaran
seperti ini sudah diikuti oleh reinforcement yang sangat membantu bagi
pemahaman anak didik terhadap materi pembelajaran.[1]
Anjuran untuk
menggunakan media dalam proses belajar mengajar telah disebutkan didalam
al-Quran dalam beberapa ayat, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, namun
setelah dikaji dan di uraikan dengan menggunakan metode-metode tafsir oleh para
ulama kita, maka kita akan mengetahui makna yang terkandung didalamnya, karna
memang didalam Al-Quran tidak semua ayat bisa langsung dipahami secara
kontekstual, ada beberapa ayat Al-Quran yang mutasyabihat yang membutuhkan
penafsiran lebih dalam, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan beberapa disiplin
ilmu yang biasa disebut tafsir.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian
diatas kita dapat menarik rumusan masalah sebagai berikut :
a. Pengertian
Kontekstualisasi dan media
b. Kontektualisasi
ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S Ali Imran (3): 44, Q.S
al-Qalam (68): 1 dan Q.S al-Alaq (96): 4 yang menggunakan term al-Qalam
c. Kontekstualisasi
ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S al-Alaq (96):1
d. Kontektualisasi
ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S
al-Baqarah (2): 260
C. Fokus
Kajian
Agar
penulisan makalah ini lebih sistematis dan sesuai dengan pokok pembahasan, maka
fokus kajian dalam makalah ini sebagai berikut: "Bagaimana
kontekstualisasi ayat dengan hubungannya dengan media pembelajaran dalam
Al-Qur’an Surat Ali Imran (3): 44, Q.S al-Qalam (68): 1 dan Q.S al-Alaq (96): 4
yang menggunakan term al-Qalam dan juga Q.S al-Alaq (96):1, Q.S al-Baqarah (2): 260, dengan menggunakan
pendapat-pendapat dari beberapa ulama ahli tafsir.
D. Tujuan
Tujuan penulisn makalah ini ialah :
1. Untuk
mengetahui pengertian kontekstualisasai dan media dengan hubungannya apa yang
dikatakan Al-Qur’an
2. Untuk
mengetahui maksud yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an secara kontekstual,
terutama yang berhubungan dengan media pembelajaran.
3. Untuk
mengetahui ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan media pembelajaran
E.
Manfaat
Penulisan
makalah ini dengan judul “KONTEKTUALISASI AYAT-AYAT YANG BERKAITAN PENGGUNAAN
MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM WAWASAN AL-QUR’AN” diharapkan
nantinya dapat berguna, yaitu sebagai berikut
1. Menambah
pengetahuan kita tentang pentingnya menggunakan media dalam hal belajar
mengajar, sebagai mana yang telah disebutkan di dalam Al-Qur’an
2. Memperluas
wawasan kita dalam memahami konteks ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan
media pembelajaran
3. Agar
kita bisa memahami peranan penting Al-Qur’an dalam mengajarkan ilmu pengetahuan
kepada manusia, sehingga kita bisa menjadi makhluk yang semakin tunduk kepada
Allah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
KONTEKSTUALISASI DAN MEDIA
Kontekstualisasi adalah,
usaha menempatkan sesuatu dalam
konteksnya, sehingga tidak asing lagi, tetapi terjalin dan menyatu dengan
keseluruhan seperti benang dalam tekstil. Dalam hal ini tidak hanya tradisi
kebudayaan yang menentukan tetapi situasi dan kondisi sosial pun turut
berbicara.[2]
Kata media berasal
dari bahasa Latin medius yang secara
harfiah berarti “tengah”, “perantara” atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab,
media adalah perantara ( وسا ئل ) atau pengantar
pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Grlach dan Ely (1971)
mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia,
materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu
memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara laebih khusus,
pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai
alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan
menyusun kembali inforasi visual atau verbal.[3]
Dari pendapat ini dapat
disimpulkan bahwa media adalah segala alat bantu yang dapat digunakan sebagai
perantara untuk menyampaikan bahan yang telah direncanakan oleh penyaji kepada
siswa sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai.[4]
jadi berdasarkan
pengertian diatas kita bila kita kaitkan dengan kontekstualisasi ayat didalam
Al-Quran yang berkaitan dengan penggunaan media, adalah, menjelaskan suatu ayat
secara eksplisit yang berhubungan dengan ayat yang lain secara utuh, sehingga
menambah kejelasan makna ayat itu dengan bantuan media untuk memudahkan mencpai
tujuan yang di inginkan. Baik itu berupa media audio, media visual, media
cetak, dll.
B.
Kontektualisasi ayat yang berkaitan
penggunaan media dalam Q.S Ali Imran (3): 44 dengan Term Al-qlam
1) Ayat
dan Terjemahannya
a.
Q.S Ali-Imran (3) : 44
ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
Artinya
:
Yang
demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada
kamu (ya Muhammad); Padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka
melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang
akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka
bersengketa.
2) Analisa
Kosa Kata
|
ذاَلِكَ مِن اَنْباءِالْغَيْبِ
|
sebagian dari berita gaib yang
diberitakan sebelumnya
|
نُحِيْ اِلَيْكَ
|
diwahyukan kepada Nabi Muhammad
SAW
|
|
وَماَ
كُنْتَ لَدَيْهِمْ
|
Rasul SAW tidak hadir, tapi dengan
wahyu memiliki pengetahuan yang lengkap dan sempurna.
|
اِذْيُلْقُوْنَ اَقْلٰمَهُم
|
Melempar
anak panah, mengundi
|
|
اَيُّهُمْ
يَقْفُلُ مَرْيَمْ
|
Orang yang berhak mengasuh
Maryam
|
وَماَكُنْتَ لَدَيْهِمْ
|
Rasul
SAW tidak hadir, tidak menyaksikan secara langsung peristiwa yang
diceritrakan al-Qur`an itu
|
3) Analisa
Teori-teori Studi Tafsir
“Tanpa
asbabun nuzul”
Adapun
ayat-ayat yang semakna dengan ayat ini adalah tentang kisah Nabi Nuh (Hud: 49)
تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَلَا قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
itu
adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan
kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu
sebelum ini
Dan
kisah Nabi Musa (al-Qashas: 44)
وَمَا كُنْتَ بِجَانِبِ الْغَرْبِيِّ إِذْ قَضَيْنَا إِلَىٰ مُوسَى الْأَمْرَ وَمَا كُنْتَ مِنَ الشَّاهِدِينَ
dan tidaklah kamu (Muhammad)
berada di sisi yang sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada
Musa, dan tiada pula kamu Termasuk orang-orang yang menyaksikan.
Wahbah az-Zuhaili mengatakan sebagian ulama
Malikiyyah beristidlal dengan ayat ini dengan sahnya qur’ah (mengundi). Dan itu
adalah asal syariat kita bagi setiap
orang yang ingin berbuat adil dalam bagian, dan itu sunah menurut jumhur fukaha
terhadap orang yang memiliki hak yang sama supaya adil, menentramkan hati
mereka dan menghilangkan keraguan bagi orang yang diberi kekuasaan untuk
mengundi dan tidak ada kelebihan diantara mereka (sama-sama kuat). Mengundi
(qur’ah) Abu Hanifah dan Ulama Hanafiyyah menolaknya dan mereka menolak hadits
tentang qur’ah karena itu sama dengan mengundi nasib.
Abu Ubaidah mengatakan ada tiga Nabi yang melakukan
qur’ah yaitu Yunus, Zakariya dan Nabi Muhammad saw. (Tafsir al-Munir, 3:227)
Ayat yang menceritakan bahwa Nabi Zakariya melakukan
qur’ah adalah QS. Ali Imran ayat 44, sedangkan yang menceritakan bahwa Nabi
Yunus melakukan qur’ah disebutkan dalam QS.ash-Shafat: 139-141
·
وَإِنَّ
يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
·
إِذْ
أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُون
·
فَسَاهَمَ
فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ
·
Sesungguhnya
Yunus benar-benar salah seorang rasul,
·
(ingatlah)
ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan,
·
kemudian
ia ikut berundi lalu Dia Termasuk orang-orang yang kalah dalam undian.
Adapun
bahwa Nabi Muhammad saw. melakukan qur’ah/undian sebagaimana disebutkan dalam
hadits berikut:
عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ
فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَه
dari
‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
apabila hendak bepergian Beliau mengundi diantara isteri-isteri Beliau, siapa
yang keluar namanya berarti dialah yang ikut bepergian bersama Beliau (HR. al-Bukhari).
Abu Bakar al-Jazair mengatakan (Aisaru tafasir,
1:317) ayat ini menunjukkan disyariatkannya undian ketika terjadi perselisihan
walaupun itu adalah syariat umat sebelum kita tapi ia juga ditetapkan dalam
syariat kita.
Al-Syaukani mengatakan bahwa ayat ini menceritakan
tentang perselisihan siapa yang berhak mengurus Maryam. Zakaria mengatakan
bahwa ia yang paling berhak karena ia adalah anak bibinya, namun Bani Israil
mengatakan kami lebih berhak karena ia adalah anak orang yang paling ‘alim
diantara kita, lalu mereka mengundi. Mereka menjadikan pena mereka pada air
yang mengalir, pena yang tidak terbawa air maka ia yang berhak mengurus Maryam,
maka pena Bani israil terbawa air sedangkan Zakaria tidak.[5]
Selanjutnya beliau mengatakan ayat ini adalah dalil
disyariatkannya qur’ah, adanya perbedaan dalam hukum disyaraitkannya qur’ah
adalah sesuatu yang diktahui, hadits-hadits tentang qur’ah adalah sahih (Fath
al-qadir, 1:389).
Maksud kata al-Qalam diatas adalah
anak panah yang menjadi alat undian mereka. Dalam ayat lain disebutkan :
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
dan
seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta),
ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan
habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.
Kata
al-Qalam dalam ayat ini mengandung makna yang sebenarnya, yaitu pena atau alat
menulis
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam
maksudnya
mengajarkan manusia tentang cara menulis dengan pena.[6]
4) Tafsir
Ayat
Semua yang dikisahkan
itu (Istri Imran, Zakariya, Yahya, dan Maryam) merupakan sebagian dari berita
yang berkaitan dengan ghaib yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. rasul SAW
tidak mendapat keterangan tentang semuanya itu selain dari wahyu Allah SWT.
Beliau tidak membaca kitab terdahulu seperti Taurat, tidak pula menerima ceritra
dari siapa pun tentang kisah para Nabi, melainkan hanya tahu dari wahyu.[7]
Al-Thabari mengaitkan kata ذَلِكَ dengan ayat
sebelumnya yaitu ayat 33 tentang Adam, Nuh, Ibrahim, istri Imran, Zakariya,
Yahya dan Maryam yang dikisahkan dalam al-Qur`an. Semua kisah mereka tidak
diketahui Nabi SAW sebelumnya, selain dari wahyu.[8]
Kata نوحيه dalam ayat ini yang berarti
mewahyukan kepada Nabi, berarti mengajarkan kepada Nabi sesuat yang tidak
diketahuinya dengan perantara media pendengaran. Ayat ini mengisyaratkan kepada
kita bahwa sesuatu yang belum diketahui haruslah kita pelajari, agar mendapat
manfaat yang baik untuk bisa menjadikan kita faham dan mengerti kebenaran
sesuatu, kita telah mengenal pada saat ini Radio, radio ini memberikan atau
menyajikan kepada kita berita-berita yang belum kita tau sebelumnya, seperti
kejadian kejadian yang terjadi diluar daerah kita atau bahkan diluar negara
kita, dengan adanya radio yang menyiarkan berita, tentunya kita bisa mengetahui
hal-hal yang terjadi di tempat lain meskipun kita tidak berada ditempat
kejadian itu, itulah salah satu makna tentang ayat ini.
Kata يَلْقُوْنَ bisa juga berarti
mengucapkan pidato, ayat inti mengindikasikan kepada ktia bahwa Inilah bekal
yang Allah siapkan untuk para dai, agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya
dalam rangka menyebarluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa
sekarang tapi juga di masa yang akan datang, untuk generasi mendatang.
Ayat ini rupanya
berkaitan dengan ayat seblumnya yaitu pada ayat 41 yang berbicara tentang tanda
yang diberikan oleh Allah kepada Zakaria, yaitu berbicara degan isyarat,
maksunya Zakaria hanya memberikan bahasa isyarat sebagai media untuk
berkomunikasi, disini Allah mengajarkan kepada kita tentang cara lain dalam
menyampaikan sesuatu, yaitu dengan bahasa isyarat, tentunya kita pernah
menyaksikan di televisi ketika pembacaan berita, kadang-kadang di selipkan pada
layar televisi, seseorang menyampaikan berita degan gerakan tangan, itu untuk
memberikan informasi kepada orang-orang yang mempunyai gangguan pendengaran,
sehingga dengan adanya bahasa isyarat, mereka bisa mengetahui apa yang
diucapakan oleh pembawa berita. Nah inilah salah satu kontekstualisasi ayat
yang menggunakan media sehingga memudahkan manusia dalam menyampaikan atau
mengajarkan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan.
5) Intisari
dan Mamfaat yang diperoleh
Berdasarkan
dari pemaparan ayat diatas kita dapat mendapatkan manfaat sebagi berikut :
1.
Bahwa kisah kisah yang diceritakan di
dalam al-Qur;an itu benar adanya, sehingga memberikan pengaruh kepada seluruh
manusia yang mempelajarinya terutama kepada guru yang mengajar kepada anak
didiknya
2.
Dengan banyaknya media pembelajaran yang
ada pada saat ini, kita bisa lebih mengasah kemampuan kita untuk belajar, degan
menggunakan petunjuk-petunjuk yang telah disampaikan oleh Al-Qur’an, sehingga
ilmu yang kita peroleh bisa bermanfaat bagi masyarakat utamanya bagi kita
sendiri
3.
Al-Quran adalah wahyu Tuhan, bukan
cuplikan dari kitab lain ataupun menukil hafalan orang lain.
4.
Persaingan haruslah dalam
melaksanakan tugas spiritual dan suci
bukannya dalam memperoleh kedudukan dan
pangkat duniawi. (IRIB Indonesia)
b. Q.S
Al-Qalam (68) : 1
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
Arinya :
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis
1. Analisa
Kosa Kata
|
ن
|
huruf-huruf
abjad yang terletak pada permulaan sebagian surat-surat Al Quran seperti:
Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya
|
وَما يَسْتُرُوْنَ
|
Tulisan
yang dibaca
|
|
ولْقَلَمِ
|
Pena
yang digunakan untuk menulis
|
|
|
2. Analisa
Teori-teori Studi Tafsir
Tanpa asbabunnuzul
Dalam
ayat ini, Allah SWT bersumpah dengan kalam dan segala sesuatu yang ditulis
dengan kalam itu untuk menyatakan bahwa kalam itu termasuk nikmat yang besar yg
dianugerahkan Allah SWT kepada manusia, di samping nikmat pandai berbicara dan
menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Dengan kalam orang dapat mencatat ajaran
agama Allah yang disampaikan kepada para Rasul Nya, orang dapat mencatat
pengetahuan-pengetahuan Allah yang bara ditemukannya. Dengan surah yang ditulis
dengan kalam orang dapat menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada
keluarga dan teman akrabnya. Dengan kalam orang dapat mencerdaskan dan mendidik
bangsanya; dan banyak lagi nikmat yang diperoleh manusia dengan kalam itu.
Yang
dimaksud dengan kalam dalam ayat ini, bukanlah kalam sebagai benda yang
terkenal itu, tetapi adalah kalam sebagai alat yang banyak kegunaannya bagi
manusia, yang dapat menuliskan buah pikiran, keinginan dan perasaan seseorang.
Demikian
pula ayat ini, Allah SWT menyebut kalam dan apa yang akan ditulis manusia
dengan kalam itu. Pada masa Rasulullah SAW telah dikenal dengan nama dan
kegunaan kalam itu, yaitu untuk menulis segala sesuatu yang terasa, yang
terpikir dan yang akan disampaikan oleh seorang manusia kepada manusia yang lain.
Sekalipun demikian belum berapa manusia yang mempergunakannya pada waktu itu
karena masih banyaknya mereka yang buta huruf dan belum berkembangnya ilmu
pengetahuan yang ada pada mereka, begitu juga pada masa sekarang. Pada masa
Rasulullah SAW kegunaan kalam sebagai sarana menyampaikan agama Allah sangat
dirasakan. Dengan kalam ayat-ayat Alquran ditulis di pelepah-pelepah kurma dan
tulang-tulang binatang atas perintah Rasulullah. SAW. Demikian pula beberapa
orang sahabat Nabi menulis hadis-hadis dengan kalam. Rasulullah SAW sendiri
sangat menghargai orang-orang yang pandai menulis dan membaca. Hal ini nampak
pada ketetapan Nabi Muhammad SAW pada perang Badar, yaitu seorang kafir yang
ditawan kaum muslimin dapat membebaskan dirinya dengan cara membayar uang
tebusan atau mengajar kaum muslimin menulis dan membaca.[9]
Dengan
ayat ini, seakan-akan Allah SWT mengisyaratkan kepada kaum muslimin bahwa
ilmu-Nya sangat luas, tiada batas dan tiada terhingga. Karena itu carilah dan
tuntutlah ilmu Nya yang sangat luas itu agar dimanfaatkan manusia untuk
kepentingan duniawi. Untuk mencatat dan menyampaikan ilmu itu kepada orang lain
dan agar tidak hilang karena lupa atau seseorang meninggal dunia,
dipergunakanlah kalam sebagai alat untuk menuliskannya. Karena itu, kalam erat
hubungannya dan tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan ilmu, kesejahteraan
dan kemaslahatan umat manusia.[10]
Ayat
ini berdekatan masa turunnya dengan ayat Alquran yang pertama kali diturunkan
Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, yaitu ayat pertama sampai dengan ayat ke 5
surah Al 'Alaq. Setelah Rasulullah saw menerima ayat permulaan surah Al 'Alaq
itu, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan kedinginan. Setelah
hilang rasa gentar dan dingin beliau, beliau dibawa Khadijah, istri beliau, ke rumah
Waraqah bin Naufal, anak dari saudara ayah Khadijah (saudara sepupu). Maka
disampaikanlah semua yang terjadi atas diri Rasulullah di gua Hira' itu kepada
Waraqah: "Yang datang kepada Muhammad itu adalah seperti yang pernah
datang kepada nabi-nabi sebelumnya; karena itu yang disampaikan malaikat Jibril
itu adalah agama yang benar-benar berasal dari Allah SWT. Kemudian Waraqah
mengatakan bahwa ia akan mengikuti agama yang dibawa Muhammad itu jika umurnya
dipanjangkan Allah SWT.[11]
3. Tafsir
Ayat
Al-Qalam adalah surat
ke-68, diturunkan di Mekah pada awal kenabian, pada urutan ke-2, setelah surat
al-Alaq dan sebelum surat al-Muzammil. Sebagian ulama berpendapat urutannya
terbalik, surat al-Muzammil pada urutan ke-2 dan al-Qalam sesudahnya. Nama surat
ini al-Qalam atau pena, surah ini sangat berhubungan dengan surah yang akan
kita bahas juga setelah surah ini, yaitu surat al-Alaq, yang menyatakan bahwa
Tuhan mengajarkan manusia dengan pena. Menarik bahwa kedua surat paling awal
ini menyinggung peranan pena sebagai alat belajar mengajar. Bahkan, surat ini
diberi nama al-Qalam, pena. Sebuah isyarat agar kaum muslimin manjadi umat
terdidik. Surat ini dimulai dengan huruf muqatha’at, “nuun” disusul
dengan sumpah pena. Huruf “nuun” oleh sebagian ulama melambangkan tinta atau
tempat tinta sebagai pasangan pena.
ن (Nuun)
Menurut tafsir yang
dikeluarkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia dijelaskan sebagai
berikut, bahwa para mufasir berbeda pendapat tentang arti huruf “nuun”
sebagaimana huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian surat-surat
Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan
sebagainya. Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada
Allah Karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang
menafsirkannya.
Golongan yang
menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang
berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para
pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al
Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari
huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari
Allah dan hanya buatan Muhammad saw semata-mata, maka cobalah mereka buat
semacam Al Quran itu.[12]
Hamka menafsirkan
“nuun” itu bukan semata-mata huruf “nun lengkung bertitik satu di atas”, yaitu
huruf yang ber-makhraj di pertemuan ujung langit-langit dan dikeluarkan melalui
hidung, yang dinamai juga huruf “sengau”. Hamka menyebutkan dalam tafsir
Al-Azhar bahwa “Nuun” adalah sebuah nama ikan besar di laut sebangsa ikan paus.
Ikan itulah yang menelan Nabi Yunus ketika beliau meninggalkan negerinya karena
kecewa melihat kekufuran kaumnya.[13]
Penafsiran ikan bernama
“nuun” yang menelan Nabi Yunus ini dihubungkan dengan ayat-ayat terahir dari
surat ini, yaitu ayat 48, 49, dan 50. Karena tiga ayat tersebut menceritakan
tentang Nabi Yunus yang ditelan ikan. Penafsiran ini dikuatkan oleh surah
al-Anbiya ayat 87 menyebut Nabi Yunus dengan Zan Nun. Menurut Ar-Razi tafsir
demikian diterima dari Ibnu Abbas, Mujahid, Muqatil, dan As Suddi.
Tetapi, penafsiran
huruf “nuun” dangan ikan “nuun” yang menelan Nabi Yunus, menurut Hamka tidak
dapat diterima jika dibandingkan dengan ayat-ayat selanjutnya, yang isinya
memuji keagungan Nabi Muhammad saw yang tahan dan sabar dalam perjuangan. Sudah
terang bahwa Nabi Yunus ditelan oleh ikan Nun (sebangsa paus) beberapa hari
lamanya adalah suatu peringatan kepada seorang Nabi Yunus yang berkecil hati
ketika melihat kekafiran kaumnya, lalu beliau meninggalkan tugasnya.[14]
Sehingga, tidaklah
layak peringatan kepada Nabi Muhammad saw ialah ikan Nun yang menelan Nabi
Yunus, karena Nabi Muhammad saw tidaklah pernah sejenak pun meninggalkan
kaumnya, bahkan selalu menghadapi tugasnya dengan hati tabah. Hijrahnya ke
Madinah bukanlah merupakan pelarian dari tugas, namun salah satu mata rantai
rencana penyempurnaan tugas. Tetapi, Hamka pun menyebutkan riwayat lain dari
Ibnu Abbas, arti Nuun ialah dawat atau tinta.[15]
Mengenai penafsiran
nuun bermakna tinta, lebih dahsyat lagi misteri ayat ini diungkap para sufi
dengan perspektif sangat berbeda dibanding makna dalam kitab-kitab tafsir
kontemporer. Ternyata tiga komponen dalam ayat ini, yaitu nun, qalam, dan
lembaran menjadi asal usul segala ciptaan Tuhan. Aziz Al-Din Nasafi (Wafat
695H/1295M), seorang sufi yang pikirannya banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi,
menjelaskan bahwa “nuun” adalah “bak tinta”. Penafsiran “nuun”, sebagai “bak
tinta” atau “kolam tinta” ini karena “nuun” dihubungkan dengan surah Al-Kahfi
ayat 109, “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis)
kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.[16]
Berbeda dengan Ibnu
Arabi yang mengartikan “nuun” dengan malaikat yang diperintah untuk menggunakan
pena itu untuk menulis. Bagi Ibnu Arabi, nuun ialah malaikat yang melukis semua
kejadian. Sang penulis memiliki pengetahuan majemuk dan beraneka ragam. “Nuun”
dan pena-nya aktif memberi pengaruh, sedangkan lembaran atau kanvas tempat
menuangkan tulisan bersifat reseptif. Jadi, menurutnya, “nuun wa alqalam wa ma
yasthurun” adalah hierarki antara Tuhan dan makhluk-Nya. Menurut Ibnu Arabi,
pena adalah akal dan lembaran adalah jiwa. Hubungan antara akal dan jiwa sama
dengan hubungan antara pena dan lembaran.[17]
وَلْقَلَمِ
(Demi Pena)
Menurut Ibnu Katsir,
kata “wal qalami” (demi kalam), secara
lahiriyah berarti demi pena yang digunakan untuk menulis. Seperti firman Allah
Ta’ala "Dia yang mengajarkan dengan qalam" (QS Al-Qolam Ayat 4). Wa al-qalam (demi pena) adalah sumpah Tuhan
(qasm) pertama dalam Alquran yang turun tidak lama setelah lima ayat pertama:
Iqra’ bi ismi Rabbikalladzi khalaq, khalaqa al-insana min alaq, iqra’ warabbuka
al-akram, alladzi ‘allama bi al-qalam, ‘allama al-insana ma lam ya’lam.[18]
Dalam Tafsir al-Misbah,
al-Qalam bisa berarti pena tertentu atau alat tulis apa pun termasuk komputer.
Ada yang berpendapat bahwa al-Qalam bermakna pena tertentu seperti pena yang
digunakan oleh para malaikat untuk menulis takdir baik dan buruk manusia serta
segala kejadian yang tercatat dalam Lauh Mahfuz atau pena yang digunakan oleh
para sahabat untuk menuliskan al-Qur’an dan pena yang digunakan untuk
menuliskan amal baik dan amal buruk yang
dilakukan manusia.[19]
Namun, pendapat ulama
yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pena adalah alat tulis apa pun
termasuk komputer adalah pendapat yang lebih tepat karena sejalan dengan kata
perintah iqra’ (bacalah). Allah seakan bersumpah dengan manfaat dan kebaikan
yang diperoleh dari pena. Hal ini mengisyaratkan anjuran untuk membaca karena
banyak manfaat yang diperoleh dengan membaca dengan syarat membacanya disertai
dengan nama Tuhan (bismirabbik) dan mencapai keridaan Allah.[20]
Ada yang memahaminya
dalam arti sempit yakni pena tertentu, ada juga yang memahaminya secara umum
yakni alat tulis apapun, termasuk komputer tercanggih. Yang memahaminya dalam
arti sempit ada yang memahami sebagai pena yang digunakan malaikat untuk
memcatat takdir baik dan buruk serta segala kejadian dan makhluk yang
kesemuannya tercatat dalam Lauh Mahfuzh, atau pena yang digunakan malaikat
menulis amal-amal baik dan buruk setiap manusia, atau pena sahabat Nabi menulis
al-Qur’an. Quraisy Shihab memahaminya secara umum, lebih tepat karena sejalan
dengan perintah membaca (iqra’) yang merupakan wahyu pada lima ayat pertama
surah al-Alaq.[21]
Pertanyaan berikutnya
ialah mengapa dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan al-Qalam (pena) dan segala
macam yang dituliskan dengannya? Dalam Tafsir Departemen Agama (Depag)
dijelaskan bahwa suatu sumpah dilakukan adalah untuk meyakinkan pendengar atau
yang diajak berbicara bahwa ucapan atau perkataan yang disampaikan itu adalah
benar, tidak diragukan sedikit pun. Akan tetapi, sumpah itu kadang-kadang
mempunyai arti yang lain, yaitu untuk mengingatkan kepada orang yang diajak
berbicara atau pendengar bahwa yang dipakai untuk bersumpah itu adalah suatu
yang mulia, bernilai, bermanfaat, dan berharga. Oleh karena itu, perlu
dipikirkan dan direnungkan agar dapat menjadi iktibar dan pengajaran dalam
kehidupan.[22] Dalam
hal ini, Allah seakan memberitahukan bahwa betapa mulianya dan pentingnya pena
itu, sampai-sampai Allah bersumpah dengannya.
Sumpah dalam arti kedua
adalah Allah bersumpah dengan qalam (pena) dan segala yang dituliskannya untuk
menyatakan bahwa qalam itu termasuk nikmat besar yang dianugerahkan Allah
kepada manusia, disamping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu
kepada orang lain. Dengan qalam, orang dapat mencatat ajaran Agama dari Allah
yang disampaikan kepada rasul-Nya, dan mencatat semua pengetahuan Allah yang baru ditemukan. Dengan
surat yang ditulis dengan qalam, orang dapat menyampaikan berita gembira dan
berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya. Dengan qalam, orang dapat
mencerdaskan dan mendidik bangsanya.
Tentang qalam, atau
yang disebut dengan pena, yang diambil dari sumpah utama oleh Tuhan. Dalam
Tafsir Al-Azhar terdapat pelbagai ragam tafsir, ada yang mengatakan bahwa
mula-mula sekali yang diciptakan oleh Tuhan dari makhluknya ialah qalam atau
pena. Disebutkan pula, bahwa panjang qalam ialah sepanjang diantara langit dan
bumi, serta tercipta dari nur yang artinya cahaya. Kemudian Allah swt
memerintahkan kepada qalam daripada Nur itu agar dia terus-menerus menulis,
lalu dituliskannya apa yang terjadi dan apa yang ada ini, baik ajal, atau amal
perbuatan.[23]
Ada pula yang
menafsirkan bahwa yang dimaksudkan dengan yang mula-mula diciptakan Tuhan ialah
qalam, artinya akal. Tetapi oleh karena hadits Nabi, yang dirawikan oleh Imam
Ahmad bin Hambal dari Hadits al-Walid bin Ubaddah bin Tsamit. berbunyi, “Yang
mula-mula diciptakan Allah ialah qalam, lalu diperintahkan Allah supaya ia
menulis. Maka bertanyalah ia kepada Tuhan: “apa yang mesti hamba tuliskan ya
Tuhan?”. Tuhan menjawab, tuliskan segala apa yang telah aku takdirkan (Aku
tentukan sampai akhir zaman)”
Al-Qadhi memberikan
tafsir bahwa isi hadits diatas ialah semata-mata majaz, artinya kata
perlambang. Sebab, tidaklah mungkin sebuah alat yang telah digunakan khusus
untuk menulis, bahwa dia akan hidup berakal, sampai dia mesti diperintah Tuhan
dan dilarang. Mustahil dapat dikumpulkan jadi satu sebuah alat guna menulis
lalu lalu makhluk bernyawa dapat diperintah. Maka bukanlah qalam itu perintah,
melainkan berlakulah qudrat iradat Allah atas makhluk-Nya dan terjadilah apa
yang telah Allah kehendaki dan tentukan, dan tertulislah demikian itu sebagai
taqdir Allah.[24]
Disini Ibnu Qayyim
menjelaskan bahwa, para ulama berbeda pendapat. Sesungguhnya apa yang pertama
kali Allah ciptakan, pena, semua makhluk, atau arsy?. Pertama, ada yang
berpendapat, yang benar adalah bahwa al-arsy diciptakan terlebih dahulu sebelum
pena, sesuai dengan hadits sahih yang berasal dari Abdullah Ibn Umar.
Menurutnya Rasulullah saw bersabdah, “Allah menetapkan takdir setiap makhluk
lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Al-Arsy-Nya
berada diatas air”.
Dari sini jelas sekali
bahwa penetapan takdir terjadi sesudah penciptaan al-Arsy, di awal penciptaan
pena. Sabda Nabi saw, “yang pertama kali diciptakan Allah adalah, pena” bisa
jadi berupa satu kalimat atau dua kalimat. Jika ia merupakan satu kalimat, dan
itulah yang benar, maka artinya ketika awal penciptaannya, Allah berkata
padanya, “Tulislah!”, dengan menashobkan kata أَوّلَ
(yang pertama) dan اَلْقَلَمَ (pena).
Sementara, jika ia dua
kalimat, maka diriwayatkan dengan kata اَوَّلُ
dan اَلْقَلَمَ dalam kondisi rafa’.
Dengan demikian, ia merupakan makhluk yang pertama di alam semesta. Jadi, kedua
hadits tersebut tidak berlawanan. Sebab, dalam hadits Abdullah Ibn Umar jelas
sekali bahwa al-Arsy lebih dahulu daripada takdir. Sementara penetapan takdir
bersamaan dengan penciptaan pena. Dalam lafal lain, “لَمّاَ
خَلَقَ اللهُ القَلم،قالَ لَهُ اُكْتُبْ ”
(ketika Allah menciptakan pena, Dia berkata kepada pena, Tulislah!).[25]
Apa yang mereka tulis وَمايَسْتُرُوْنَ
Menurut Quraisy Shihab,
pemahaman “dan apa yang mereka tulis” harus dikaitkan dengan makna al-Qalam.
Dengan demikian yang ditunjuk oleh kata “mereka” dapat dipahami dalam arti
malaikat, sahabat Nabi, para penulis Wahyu, atau manusia seluruhnya. Kata Ar-Razi
ada pula yang menafsirkan bahwa “mereka” disini ialah malaikat-malaikat yang
menuliskan segala amal perbuatan manusia. Sebab dalam surah al-Infithar ayat
10, 11, dan 12 tentang malaikat-malaikkat yang mulia yang ditugaskan oleh Allah
menuliskan segala amal perbuatan manusia dan menjaganya.
Siapa pun yang
dimaksud, yang jelas ماَيَسْتُرُوْنَ
adalah tulisan yang dapat dibaca. Dengan demikian Allah seakan bersumpah dengan
manfaat dan kebaikan yang dapat diperoleh dari tulisan (the power of writing).
Ini secara tidak langsung merupakan anjuran membaca karena dengan membaca,
seseorang akan memdapatkan manfaat dan kebaikan yang banyak selama itu
dilakukan بإِسْمِ رَبِّكَ, yakni demi karena
Allah dan guna mencapai ridha-Nya.[26]
Tetapi, semua
penafsiran manusia ialah sejauh kadar akal penafsir. Hamka mencoba mendekatkan
tafsir ini dengan realitas kehidupan sehari-hari. Hamka menafsirkan huruf
“nuun” ini dengan tinta dan qalam ditafsirkan pula dengan pena yang dipakai
untuk menulis. Kemudian, “apa yang mereka tuliskan” ialah hasil dan buah pena
ahli-ahli pengetahuan yang menyebarkan ilmu dengan Tulisan. Ketiga benda
tersebut dalam kehidupan dari awal sampai saat ini ialah sangat penting bagi
kemanusiaan, yaitu “TINTA”, “PENA”, dan “TULISAN”. “Nuun” adalah ‘bak tinta’. Sedangkan
qalam adalah pena, yang merupakan substansi pertama atau biasa disebut sebagai
akal pertama, dan lembaran (ماَيَسْتُرُوْنَ)
ialah lembaran yang terpelihara (lauh mahfuz) atau ummul kitab.
4. Intisari
dan Mamfaat yang diperoleh
Ketika kita ingin mengajak
orang kepada kebaikan, tentunya kita harus memiliki ilmu untuk meyakinkan
argumentasi kita. Untuk itulah kenapa Ilmu begitu penting, sehingga Allah
berfirman dalam surat Al Qalam ayat 1 tentang ilmu ini.
Inilah bekal yang Allah
siapkan untuk para dai, agar memperhatikan ilmu dan menuliskannya dalam rangka
menyebarluaskan ilmu sehingga bermanfaat tidak hanya pada masa sekarang tapi
juga di masa yang akan datang, untuk generasi mendatang.
ayat ini menarik,
karena secara tersirat Allah swt menuntun kita agar memperhatikan perkembangan
dunia tulisan, yang dahulu kala menggunakan tinta, sekarang sudah melalui dunia
maya. Seorang dai harus melek teknologi, karena tulisan era sekarang tidak lagi
berupa dalam selembar daun, kertas, atau batu tapi sudah melalui teknologi
eBook, internet, dan lain sebagainya.
c. Q.S
al-Alaq (96): 4
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
Artinya
:
Yang mengajar (manusia)
dengan perantaran kalam
1.
Analisa Kosa Kata
|
اَلّذِيْ عَلَّمَ
|
Tuhan yang mengjarkan manusia
|
باِلْقَلَمِ
|
Pena,
Allah menyediakan Qalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu
menjadi penghubung bagi manusia.
|
2.
Analisa Teori-teori Studi Tafsir
Tidak ada asbabun nuzul
Kata عَلَّمَ Secara bahasa berarti pengajaran (عَلَمَ - يُعَلِّمُ - تَعْلِيْما), secara istilah
berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian,
pengetahuan dan ketrampilan. Menurut Abdul Fattah Jalal, ta’lim merupakan
proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga
diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran sehingga siap
menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya (
ketrampilan). Mengacu pada definisi ini, ta’lim, berarti adalah usaha terus
menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’
ke posisi ‘tahu’ seperti yang digambarkan dalam surat An Nahl ayat 78
,وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“dan Allah mengeluarkan dari perut ibumu
dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur”.
اَلتَّعْليْم dalam al-qur’an menggunkan bentuk fi’il
(kata kerja) dan isim (kata benda), dalam fi’il madliy disebutkan sebanyak 25
ayat dari 15 surat, Fi’il mudlari 16 kali dalam 8 surat.
Kata-kata اَلتَّعْليْم
dalam bentuk fi’l madliy (kata kerja lampau) adalah ‘عَلَّمَ dengan berbagai variasinya, antara lain:
QS. Al-Baqarah : 31وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ|¹
dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu
berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang
benar orang-orang yang benar!"
Al-Maraghi menjelaskan
kata ‘عَلَّمَ dengan alhamahu
(memberi Ilham), maksudnya Allah memberi Ilham kepada Nabi Adam a.s. untuk
mengetahui jenis-jenis yang telah diciptakan beserta zat, sifat, dan
nama-namanya. Sebagai mana dalam surah Q.S. Ar-Rahman : 1-4
الرَّحْمَٰنُ
عَلَّمَ الْقُرْآنَ
خَلَقَ الْإِنْسَانَ
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
1. (tuhan) yang Maha pemurah,
2. yang telah mengajarkan Al Quran.
3. Dia menciptakan manusia.
4. mengajarnya pandai berbicara.
Kata Allama’ mengandung arti memberitahukan, menjelaskan,
memberi pemahaman. QS. Al-‘Alaq : 4-5
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Ash-Shawi, Al-Maraghi, dan Al-Juzi menafsirkan makna ‘allama,
dengan makna memberitahukan atau menyampaikan ilmu menulis dengan kalam,
menjadikan kalam sebagai alat untuk saling memahami di antara manusia.
At-Ta’lim Dalam HaditsMenurut Al-Asqalani, kata ta’lim nabi
kepada umatnya, lai-laki dan perempuan dengan cara tidak mengunakan pendapatnya
dan juga qiyas. Secara struktur, kata hum dalam hadits menunjukan makna ta’lim
bersifat umum,bagi siapa saja dan tingkatan usia.
Ta’dib, Merupakan bentuk masdar dari kata اَدَّبَ - يُأَدِّبُ - تَأْدِيْبا, yang berarti
mengajarkan sopan santun. Sedangkan menurut istilah ta’dib diartikan sebagai
proses mendidik yang di fokuskan kepada pembinaan dan penyempurnaan akhlak atau
budi pekerti pelajar.
Menurut Sayed Muhammad An-Nuquib Al-Attas, kata ta’dib adalah
pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia
tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan
sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan
dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud keberadaan-Nya. Definisi ini, ta’dib
mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim), pengasuhan
(tarbiyah). Oleh sebab itu menurut Sayed An-Nuquib Al Attas, tidak perlu
mengacu pada konsep pendidikan dalam Islam sebagai tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib
sekaligus. Karena ta’dib adalah istilah yang paling tepat dan cermat untuk
menunjukkan dalam arti Islam.
3.
Tafsir Ayat
Salah satu bentuk
karamah (kemurahan) Allah adalah apa yang digambarkan dalam kandungan ayat
keempat surah Al Alaq ini . ayat-ayat tersebut menyifati Tuhan Yang Maha
Pemurah. Dengan demikian rangkain menerangkan sebagian bentuk atau cara Allah
SWT dalam melimpahkan Kemurahan-Nya.
Dari segi bahasa qalama
( ﻗﻠﻡ ) berarti “memototong ujung sesuatu”
memotong ujung kuku disebut taqlim (ﺘﻘﻟﻴﻡ)
tombak panah yang runcing ujungnya dan yang bias digunakan untuk mengundi
dinamai juga qalam ( ﻗﻠﻡ ) . sebagaimana telah
dijelaskan pada ayat sebelumnya.
Dalam Al Qur’an, kata
qalam bentuk tunggal ditemukan dua kali, yaitu pada ayat empat wahyu pertama
ini dan pada ayat pertama wahyu kedua.sedangkan dalam bentuk jamak ditemukan
dua kali pula, masing-masing pada surah Al-imran ayat 44 dan surah Luqman ayat
27.
Dalam ayat yang
ditafsirkan ini, kata yang digunakan, yakni qalam adalah “alat” tetapi yang
dimaksud adalah penggunaan alat tersebut, yakni “tulisan”. Pengertian ini
ditarik karena sulit digambarkan bagaimana pena yang merupakan alat itu dapat
digunakan sebagai pengajaran.
Pemilihan kata qalam,
sebagai sebagai pengganti kata kittabah yang berarti “tulisan” di samping untuk
penyesuaian akhir kata ayat ini dengan akhir kata ayat sebelum dan sesudahnya,
juga untuk menggambarkan pentingnya peranan alat tulis, baik yang sederhana
maupun yang canggih.
Guna memahami lebih
dalam kandungan ayat keempat dan kelima surah Al-‘Alaq, perlu dikemukakan suatu
kaidah yang dikenal di kalangan ahli-ahli bahasa dan yang diterapkan oleh
sekian banyak ulama tafsir dalam usaha pemahaman mereka terhadap ayat-ayat
Al-qur’an. Kaidah tersebut mereka namakan ihtibak. Firman Allah SWT
dalam surah Yunus ayat 67 merupakan salah satu contoh yang jelas tentang
istilah tersebut:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا
“Dia
(Allah) yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya, dan
menjadiakan siang terang benderang….”
Dalam ayat di atas
terdapat susunan kalimat yang nengandung arti, pertama , Allah menjadikan siang
terang benderang. Keterangan “untuk beristirahat” pada susunan pertama dan
“terang benderang” pada susunan kedua merupakan isyarat- isyarat tentang adanya
keterangan yang tidak disebutkan pada masing-masing susunan kalimat.
Sehingga pada akhirnya,
ulama-ulama tafsir menyatakan bahwa ayat tersebut diartikan : “Dia (Allah) yang
menjadikan malam (gelap gulita) bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan
menjadikan siang terang benderang (supaya kamu tekun bekerja didalamnya).
Mufassir Al Alusy menjelaskan, ayat-ayat ini menguraikan bahwa Allah SWT
mengajar manusia dengan pena atau tanpa pena. Dari uraian di atas dapat
dinyatakan bahwa ayat keempat dan kelima surah Al Alaq menjeaskan dua cara yang
ditempuh oleh Allah dalam mengajar manusia. Pertama melalui “pena” atau
“tulisan” yang harus di baca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran
secara langsung tanpa alat.
Kemudian dengan ayat
ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis,
sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan
tempat. sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai
benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi,
maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi-Nya sebagai manusia pilihan-Nya
bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatakan bahwa
Dia menjadikan manusia dari 'Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan
perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari
sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai
manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan
dikatakan kepada mereka, "Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah
berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal
mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan
Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.[27]
4.
Intisari dan Manfaat yang diperole
Allama bil-qalam (yang
mengajar dengan qalam). Makna qalam terus berkembang sepanjang zaman, mulai
dari alat tulis sederhana, sampai arti qalam di abad modern ini, seperti mesin
tik, komputer, mesin-mesin percetakan, cetak jarak jauh, internet, dan kini
yang mengagumkan adalah hand phone dengan aneka fungsinya yang terus
berkembang. Qalam adalah alat tulis dan alat rekam, sebagai lambang teknologi,
karena sesungguhnya Tuhan bisa saja mengajar manusia bukan dengan cara biasa
seperti umpamanya ia mengajar para Nabi dan orang-orang tertentu tanpa alat.
C.
Kontektualisasi ayat yang berkaitan
penggunaan media dalam Q.S al-Alaq
(96) : 1
1. Ayat
dan Terjemahannya
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya :
Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Analisa
Kosa Kata
|
اِقْرأْ
|
Bacalah, perintah pertama
jibril kepada Nabi Muhammad
|
باِسْمِ رَبِّكَ
|
Mulailah
membaca Al-Qur’an dengan nama Tuhanmu
|
|
اَلّذِيْ
خَلَقَ
|
Tuhan yang meciptakan segala
sesuatu
|
|
|
3. Analisa
Teori-teori Studi Tafsir
Asbabunnuzul
ayat diatas Disebutkan dalam hadits-hadits shahih, bahwa Nabi SAW mendatangi
gua hira’ (hira’ adalah nama gunung di Makkah) untuk tujuan beribadah selama
beberapa hari, beliau kembal kepada istrinya, Siti Khadijah untuk mengambil
bekal secukupnya. Hingga pada suatu hari di dalam gua, beliau dikejutkan oleh
kedatangan malaikat membawa wahyu Illahi. Malaikat berkata kepadanya :
“Bacalah!” beliau menjawab “Saya tidak bisa membaca”. Perawai mengatakan bahwa
untuk kedua kalinya malaikat memegang nabi dan mengguncangkan badannya hingga
nabi kepayahan, dan setelah itu dilepaskan. Malaikat berkata lagi kepadanya
“Bacalah!” Nabi menjawab “Saya tidak bisa membaca”. Perawi mengatakan, bahwa
untuk ketiga kalinya malaikat memrgang nabi dan mengguncangkannya hingga beliau
kepayahan.[28]
Jika
diamati, objek mambaca pada ayat-ayat yang menggunakan akar kata qara’a, (قرأ)
terkadang berupa bacaan yang bersumber dari Allah, seperti Al-Qur’an dan
kitab suci sebelumnya, misalnya QS. Al-A’raf: 204, dan QS. Yunus: 94. Terkadang
juga objeknya adalah suatu kitab yang merupakan himpunan karya manusia atau
dengan kata lain bukan bersumber dari Allah, misalnya QS. Al-Isro’: 14
4. Tafsir
Ayat
Menurut Quraish Shihab,
kata iqra (إِقرأ)terambil dari kata
kerja qara’a (قرأ) yang pada mulanya
berarti “menghimpun”. Apabila kita merangkai huruf atau kata kemudian kita
mengucapkan rangkaian kata tersebut, maka kita telah menghimpunnya. Arti asal
kata ini menunjukkan bahwa iqra’ (إِقرأ),
yang diterjemahkan dengan “bacalah”, tidak mengharuskan adanya suatu teks
tertulis yang dibaca, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang
lain. Karenanya, kita dapat menemukan beraneka ragam arti dari kata tersebut
dalam kamus-kamus bahasa, antara lain, menelaah, membaca, mendalami, meneliti,
mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan sebagainya, yang semuanya bisa dikembalikan
kepada hakikat “menghimpun”.[29]
Menurut Yusuf Qardhawi,
kata iqra’ (إِقرأ) secara etimologi
berarti membaca huruf-huruf yang tertulis dalam buku-buku. Sedangkan secara
terminologi, yakni membaca dalam arti yang lebih luas. Maksudnya membaca alam
semesta (ayat al-kaun).[30]
Sedangkan menurut
Al-Maraghi sebagaimana yang dikutip oleh Abuddin Nata dalam bukunya yang
berjudul “tafsir ayat-ayat pendidikan”, bahwa kata iqra’(إِقرأ) dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1 dapat diartikan “jadilah engkau
(Muhammad) seorang yang pandai membaca berkat kekuasaan dan kehendak Allah yang
telah menciptakanmu, walaupun sebelumnya engkau tidak dapat melakukannya”.[31]
Menurutnya pula, pengulangan kata iqra’
(إِقرأ) pada QS. ‘Alaq ayat 3 didasarkan pada
alasan bahwa membaca itu tidak akan membekas dalam jiwa kecuali dengan
diulang-ulang dan membiasakannya sebagaimana dalam tradisi. Perintah Tuhan
untuk mengulang membaca berarti pula mengulangi apa yang dibaca. Dengan cara
demikian bacaan tersebut menjadi milik orang membacanya. Kata iqra’ (إِقرأ) mengandung arti yang amat luas, seperti mengenali,
mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan, menganalisa, menyimpulkan,
dan membuktikan.[32]
Di sini juga terdapat
perbedaan antara “membaca” yang menggunakan akar kata qara’a (قرأ) dengan “membaca” yang
menggunakan akar kata tala, di mana kata terakhir ini digunakan untuk
bacaan-bacaan yang sifatnya suci dan pasti benar, misalnya QS. Al-Baqarah: 252,
dan QS. Al-Bayyinah: 2.
Di lain segi, dapat
dikemukakan suatu kaidah bahwa suatu kata kerja dalam susunan redaksi yang
tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum. Dari sini
dapat ditarik kesimpulan bahwa karena dalam QS. Al-‘Alaq kata qara’a (قرأ) digunakan dalam arti membaca, menelaah,
menyampaikan, dan sebagainya, dan karena objeknya tidak disebutkan sehingga
bersifat umum, maka objek kata tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau,
baik itu ayat suci Al-Qur’an, alam raya, masyarakat, diri sendiri, majalah,
koran, dan sebagainya.[33]
Menurut Iskandar AG
Soemabrata, dengan kata lain iqra’ (إِقرأ) juga dapat dipersamakan dengan melihat,
sekaligus mengamati dan memperhatikan, serta merekam dalam ingatan objek apa
saja yang ada dihadapan kita, sehingga nantinya dapat mengambil manfaat dari
apa yang kita perhatikan itu. Karena iqra’ (membaca) sebenarnya tidak terbatas
pada ayat-ayat yang tertulis saja (ayat-ayat qauliyah), tetapi juga membaca
ayat-ayat yang tidak tertulis yang ada pada alam ini (ayat-ayat kauniyah).[34]
Dalam QS. Al-‘Alaq,
perintah membaca, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan “بِإسْمِ ربّكَ” (dengan nama Tuhanmu). Pengaitan ini
merupakan syarat sehingga menuntut si pembaca bukan saja agar membaca dengan
ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak
mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu. Karena
yang memerintah membaca adalah Tuhan yang mendidik, memelihara, mengembangkan,
meningkatkan, dan memperbaiki keadaan makhluk-Nya.[35]
Kata “pendidikan” yang
umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah تَرْبِيّةُ
dengan kata kerja “رَبَّ”. Kata “pengajaran”
dalam bahasa arab adalah “Ta’lim” (تَعْلِمْ)
dengan kata kerjanya “allama” عَلَّمَ
Di dalam masyarakat
Islam sekurang-kurangnya tiga istilah yang digunakan untuk menandai konsep
pendidikan, yaitu tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Istilah yang sekarang
berkembang secara umum di dunia arab adalah تَرْبِيّةُ.
Kata kerja رَبَّ ( mendidik) sudah digunakan pada zaman
Nabi Muhammad SAW seperti terlihat dalam ayat al-Qur’an sebagai berikut :
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا|¹
Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil”.(Q.S. Al-Israa’/17:24).
Dalam ayat lain kata ini digunakan dalam
susunan
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ
Fir`aun
menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu
tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.(Q.S. Asy-Syu’araa’/26:18)
Kata تَرْبِيّةُ berakar pada tiga kata. Pertama , kata,
rabaa, yarbuu yang berarti bertambah dan tumbuh. Kedua kata رَبِيَ, يَرْبى
yang berarti tumbuh dan berkembang. Ketiga, kata, رَبَّ،
يَرُبُّ, yang berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan
dan memelihara.
Kata اَلتّرْبِيّةُ
(at-tarbiyah) diterjemahkan menjadi pendidikan, pengasuhan dan
pemeliharaan. Abdurrahman al-Nahlawi
salah seorang pengguna istilah تَرْبِيّةُ,
berpendapat bahwa pendidikan berarti:
1. memelihara
fitrah anak,
2. menumbuhkan
seluruh bakat dan kesiapannya,mengarahkan fitrah dan seluruh bakatnya agar
menjadi baik dan sempurna, serta
3. bertahap
dalam prosesnya.
Dalam
kode bahasa biasa kata kerja khalaqa berkisar ada medan makna
“penyiapan”,”penyediaan”, dan “perencanaan” bagi satu tindakan, realisasi, dan
pelaksanaan. Karena itu, makna al-khalaq (perencanaan) dibedakan dari al-fary
yang berarti pelaksanaan, realisasi, dan tindakan nyata yang menyusuli
perencanaan, penyiapan, dan penyediaan. Kedua kata itu sendiri dalam pemakaian
asalnya merupakan istilah yang idunakan dunia kerajinan tangan, khususnya di
bidang perkulitan. Selanjutnya, dalam pemakaian bahasa prea al- Quran keduanya
telah bergerser pada makna literalnya ini menjadi makna metaphor. Zuhair
misalnya,
Anda benar-benar berbuat (tafri)
Segala
yang anda rencanakan (ma khalaqa)
Kebanyakan
orang rajin merencana (yakhluqu)
Tanpa
berbuat apa-apa (la yafri’)
Pola yang sama
juga digunakan dalam pujian ini
Jika
anda berjandi pasti ditepati
Dan
jika anda berencana (khalaqta) pasti terlaksana (faraita)
Pada
konteks evolusi makna berikutnya, pemakaian metaforik terhadap dua kata di atas
lama-kelamaan menjadi metaphor yang mati. Artinya, ia kembali menjadi bgian
dari pemakaian bahasa biasa yang nonmetaforik. Penggunaan semacam ini terdapat
pula dalam Al-Qur’an, yaitu dalam firman Allah yang mengisakhan ucapan Isa a.s
kepada kaumnya “sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa suatu tanda
dari Tuhamu, yaitu aku membentuk (yakhluku) serupa burung dari tanah, kemudian
aku meniupnya, maka ia pun menjadi seekor burung atas izin Allah. Begitu pula
terdapat dalam seruan Allah kepada Isa : “ ingatlah waktu kamu membentuk (
yakhluqu) serupa burung dengan izinku. Ath-Thabari menafsirkan makna al-khalaq
dalam ayat-ayat diatas yang baru disinggung sebagai “pembentukan”[36]
5. Intisari
dan Manfaat yang diperoleh
Manusia sepatutnya
tunduk kepada Allah, bukan kepada alam dan segala yang diciptakan اللَذِيْ خلَكَ, karna Allah lah yang menciptakan alam
ini,.
Ayat ini mengandung
perintah agar mamusia memiliki keimanan, yaitu berupa keyakinan terhadap adanya
kekuasaan dan kehendak Allah, juga mengandung pesan ontologis tentang sumber
ilmu pengetahuan. Ayat-ayat Allah terdiri dari yang tertulis (Al-Qurán), tidak
tertulis (keadaan jagat raya), dan yang ada pada diri manusia. Dari berbagai
ayat tersebut jika telaah secara cermat, diobseravasi, diidentifikasi,
dikategorikan, dibandingkan, dianalisa, dan disimpulkan dapat menghasilkan ilmu
pengetahuan[6]. Membaca ayat-ayat Allah didalam Al-Qurán dapat menghasilkan
ilmu agama Islam seperti; Fiqh, Tauhid, Akhlak dsb. Membaca ayat-ayat Allah
yang ada di jagat raya dapat menghasilkan sains seperti Fisika, Biologi, Kimia,
Astronomi, Geologi, Botani, dsb.
Selanjutnya membaca ayat-ayat Allah yang ada pada diri manusia dari segi
fisiknya menghasilkan ilmu kedokteran,
ilmu tentang raga, dan dari segi tingkah lakunya menghasilkan ilmu ekonomi,
ilmu politik, sosiologi, antropologi, dsb. Pemanfaatan ilmu-ilmu tersebut harus
ditujukan dengan mendekatkan diri dan terus beribadah kepada Allah SWT.
D. Kontektualisasi
ayat yang berkaitan penggunaan media dalam Q.S Q.S al-Baqarah (2): 260
1. Ayat
dan Terjemahannya
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌLìÅ3ym
Artinya
:
Dan
(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku
bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati." Allah berfirman:
"Belum yakinkah kamu ?" Ibrahim menjawab: "Aku Telah meyakinkannya,
akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman:
"(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya
olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu
bagian dari bagian-bagian itu, Kemudian panggillah mereka, niscaya mereka
datang kepadamu dengan segera." dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.
- Analisa kosa kata
|
رَبِّ
اَرِنِيْ
|
Nabi
Ibrahim memohon kepada Allah, Ya Allah Tunjukkan padaku
|
كَيْفَ
تُحْيِ الْمَوُتىَ
|
Bagaimana
engkau menghidupkan sesuatu yang sudah mati
|
|
اَوَلَمْ
تُۏْمِنُ
|
Apakah
kamu tidak percaya
|
وَلٰكِنْ
لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ
|
saya
ingin agar hatiku tenang dan agar saya sampai kepada derajat keyakinan yang
sebenar-benarnya.
|
|
فَخُذْ
اَرْبَعَةَ مِنَ الطَيْرِ
|
Ambillah
empat ekor burung
|
فَصُرْهُنَّ
اِلَيْكَ
|
Cingcanglah
burung burung itu
|
|
اِجْعَلْ
عَلى كُلِّ جَبَلِ
|
Letakkan
burung-burung yang sudah dicingcang itu ditiap tiap bukit
|
مِنْهُنَّ
جُزْءَ
|
Setip
potong, bagian bagian yang telah di cingcang
|
|
ادْعُهُنَّ
يأْتِيْنَكَ سَعْياَ
|
Panggillah
burung itu, niscara meraka akan dating degan cepat, maksudnya terbang tidak
berjalan kaki
|
عَزِيْز
حَكِيْم
|
Penetapan
dua nama dari nama-nama Allah Ta’ala, yaitu (العزيز):
“Maha Perkasa”, dan (الحكيم): “Maha Bijaksana”,
dan penetapan dari apa yang terkandung padanya berupa sifat.
|
- Analisa teori-teori studi tafsir
Sebagian ahli tafsir
seperti Hasan al-Bashri, Aththa al-Hurasani, adh-Dhahak dan Ibnu Juraij,
menyebutkan sebab dari permintaan Ibrahim 'alaihi sallam kepada Allah Ta’ala,
adalah bahwa Ibrahim melewati bangkai binatang, berkata Ibnu Juraij: “Bangkai
keledai di tepi pantai”, berkata Aththa: “Danau Thabariah”. Mereka mengatakan:
“Bahwa bangkai tersebut sudah dicabik-cabik oleh binatang darat dan laut, jika
air laut pasang, maka datanglah ikan dan hewan laut lainnya, maka mereka
memakan sebagian darinya, dan sebagian dari sobekan daging dari bangkai yang
terjatuh dari mulut ikan di bawa oleh air (ketempat yang jauh –red), setelah
air laut surut, maka datanglah binatang buas, merekapun memakan sebagian
darinya, dan sebagian dari sobekan daging dari bangkai yang terjatuh dari mulut
binatang buas telah menjadi debu, jika binatang buas pergi, maka datanglah
burung, merekapun memakan sebagian darinya, dan sebagian dari sobekan daging
dari bangkai yang terjatuh (dari paruh burung) telah di tiup angin (ke tempat
yang jauh), ketika Ibrahim melihat kejadian tersebut, maka ia heran karenanya,
dan berkata: “Ya Tuhanku sungguh aku telah mengetahui bahwa engkau akan
mengumpulkannya(jasad dari bangkai tersebut), maka perlihatkanlah kepadaku
bagaimana caramu menghidupkannya, agar aku mengetahuinya”.[37]
Hadis yang berkaitan
dengan ayat diatas adalah :
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ
شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ وَسَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْنُ
أَحَقُّ بِالشَّكِّ مِنْ إِبْرَاهِيمَ إِذْ قَالَ { رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي
الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ {لِيَطْمَئِنَّ
قَلْبِي
Aku
lebih berhak untuk ragu dari pada Ibrahim 'Alaihis Salam ketika ia berkata;
Wahai Tuhanku perlihatkanlah kepada saya bagaimana Engkau menghidupkan
orang-orang yg telah mati, Allah berfirman: Apakah kamu tak beriman?
Ibrahim
berkata; Tentu aku telah beriman, hanya agar hatiku lebih mantap. [HR. Bukhari
No.4173].
- Tafsir ayat
Pendapat diatas adalah
menurut At-Thabari dan ibnu Katsir, sedang menurut abu muslim Al Ashfahani
pengertian ayat diatas bahwa Allah memberi penjelasan kepada nabi Ibrahim a.s.
tentang cara dia menghidupkan orang-orang yang mati. Disuruh-Nya nabi Ibrahim
a.s. mengambil empat ekor burung lalu memeliharanya dan menjinakkannya hingga
burung itu dapat datang seketika, bilamana dipanggil. Kemudian, burung-burung
yang sudah pandai itu, diletakkan di atas tiap-tiap bukit seekor, lalu
burung-burung itu dipanggil dengan satu tepukan/seruan, niscaya burung-burung
itu akan datang dengan segera, walaupun tempatnya terpisah-pisah dan berjauhan.
Maka demikian pula Allah menghidupkan orang-orang yang mati yang tersebar di
mana-mana, dengan satu kalimat cipta hiduplah kamu semua Pastilah mereka itu
hidup kembali. jadi menurut abu muslim sighat amr (bentuk kata perintah) dalam
ayat ini, pengertiannya khabar (bentuk berita) sebagai cara penjelasan.
pendapat beliau Ini dianut pula oleh Ar Razy dan Rasyid Ridha.
Jika kita pikirkan,
ayat ini memberikan gambaran bagaimana perjalanan Nabi Ibrahim dalam mencari
keyakinan pada Tuhan. Nabi Ibrahim ingin memantapkan keyakinannya kepada Tuhan.
Dengan panduan dari Tuhan, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk melakukan percobaan
(eksperimen). Lalu Nabi Ibrahim diberi sebuah metode oleh Tuhan untuk
membuktikan keberadaan-Nya. Metode itu adalah “Allah berfirman: ambillah empat
ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu
letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu,
kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera".
Dalam dunia ilmu pengetahuan metode ini kita kenal metode eksperimen atau
percobaan.
Kisah Nabi Ibrahim ini
memberi petunjuk kepada kita, bahwa keyakinan itu perlu kita tingkatkan. Dari
yakin menjadi haqul yakin. Untuk mencapai derajat haqul yakin (keimanan yang
mantap) manusia harus membuktikan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan Tuhan.
Nabi Ibrahim menyadari bahwa dirinya makhluk rasional dan nyata (empiris).
Untuk meningkatkakan keyakinannya terhadap Tuhan, Nabi Ibrahim meminta
pembuktian nyata tentang kebenaran adanya Tuhan. Untuk itu Nabi Ibrahim
melakukan percobaan sesuai dengan perintah Tuhan.
Diayat ini menjelaskan
bahwa Allah telah membuat masing-masing burung kembali pada bentuknya semula.
Semua potongan Ibrahim yang dicerai-beraikannya kembali menyatu dan membentuk
kehidupan seperti sebelumnya hingga Ibrahim pun akhirnya yakin dengan apa yang
dilihatnya. Dengankeyakinan ini maka sempurnalah pemahaman nya dan hal ini
menunjukkan bahwa untuk merevisi pemikirn dan analisis, butuh satu visualisasi
hingga dengannya tidak dibutuhkan lagi dalil dan petunjuk lainnya serta
hilanlah keraguan yang bersarang dalam hati.
Sungguh apa yang
dialami Ibrahim adalah bukti nyata akan adanya kehidupan setelah kematian.
Rahasia ini seolah diungkap langsung oleh Sang Pencipt hingga manusia mampu
memahami ekstensinya. Rahasia ini terjadi dalam setiap saatnya. Manusia hanya
bisa merasakan dampaknya setelah ia mengalaminya secara langsung. Inilah
rahasia kehidupan.
- Intisari dan manfaat yang diperoleh
- Bahwa (عين اليقين): “Keyakinan yang di peroleh dengan melihat secara langsung” lebih kuat dari pada (خبر اليقين): “Keyakinan yang di peroleh dari kabar”, ini sesuai firman Allah Ta’ala : (أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى): “Perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Karena Ibrahim ‘alaihi sallam telah mempunyai (خبر اليقين): “Keyakinan yang di peroleh dari kabar” bahwa Allah Mampu untuk melakukan hal tersebut, akan tetapi dia menginginkan (عين اليقين): “Keyakinan yang di peroleh dengan melihat secara langsung”.
- Bertanya adalah kunci mengetahui sesuatu, sebagai mana Nabi Ibrahim bertanya kepada Allah, dalam pertanyaan ada subjek da ada objek yang ditanyakan, setiap orang memiliki perbedaan dalam pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu yang dimilikinya,
- Bahwa Allah itu maha perkasa lagi maha bijaksana, karna Dia bisa menghidupkan yang mati
- Ayat ini menunjukan penetapan keyakinan kehidupan yang kedua (setelah kematian) yaitu dengan dibangkitkannya para makhluk untuk hari perhitungan dan hari pembalasan.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari seluruh pembahasan
dan penafsiran ayat-ayat diatas adalah suatu keharusan bagi kami untuk
menyimpulkan, sekedar untuk mengingatkan dan memudahkan bagi pembaca dan
mudah-mudahan bisa bermanfaat dan berguna.
1.
Pengertian kontekstualisasi dan media. Bila
kita kaitkan dengan kontekstualisasi ayat didalam Al-Quran yang berkaitan
dengan penggunaan media, adalah, menjelaskan suatu ayat secara eksplisit yang
berhubungan dengan ayat yang lain secara utuh, sehingga menambah kejelasan
makna ayat itu dengan bantuan media untuk memudahkan mencapai tujuan yang di
inginkan. Baik itu berupa media audio, media visual, media cetak, dll.
2.
Q.S Ali-Imran (3) : 44. Ayat ini
menekankan kepada kita bahwa tidak ada seseorang pun yang bisa mengetahui
hal-hal yang gaib kecuali melalui wahyu, meskipun dia itu adalah seorang Nabi,
karna itu merupakan rahasia Allah SWT,
3.
Q.S Al-Qalam (68) : 1. Setelah Allah
memerintahkan kita untuk اِقْرأْ (membaca) dalam arti
luas, lalu pada surah berikutnya yang turun Allah mengajarkan kepada manusia
untuk memakai media (اَلْقَلَمِ), yang berperan
sebagai alat atau media yang digunakan untuk belajar-mengajar, dalam hal ini
buku, tablet, hand phone, komputer dan semacamnya, juga termasuk media yang
dimaksud ayat tersebut, sebagai isyarat kepada kaum muslim agar menjdi umat
yang terdidik. adapun Allah bersumpah
dengan qalam (pena) dan segala yang dituliskannya, adalah untuk menyatakan
bahwa qalam itu termasuk nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada manusia,
disamping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain.
Dengan qalam, orang dapat mencatat ajaran Agama dari Allah yang disampaikan
kepada rasul-Nya, dan mencatat semua pengetahuan
Allah yang baru ditemukan. Dengan surat yang ditulis dengan qalam, orang dapat
menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya.
Dengan qalam, orang dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya.
4.
Q.S al-Alaq (96): 4. Makna Qalam
terus berkembang sepanjang zaman, mulai dari alat tulis sederhana, sampai arti
qalam di abad modern ini, seperti mesin tik, komputer, mesin-mesin percetakan,
cetak jarak jauh, internet, dan kini yang mengagumkan adalah hand phone dengan
aneka fungsinya yang terus berkembang. Qalam juga bisa berarti alat tulis dan
alat rekam, sebagai lambang teknologi, sehingga manusia bisa mengambil manfaat
untuk terus mengembangkan ilmu yang dimilikinya, sesuai dengan dasar-dasar yang
telah dijelaskan oleh Al-Qur’an dan Hadis.
5.
Q.S al-Alaq (96) : اِقْرأْ (bacalah) secara terminologi, yakni membaca
dalam arti yang lebih luas, Maksudnya membaca alam semesta (ayat al-kaun),
seperti mengenali, mengidentifikasi, mengklasifikasi, membandingkan,
menganalisa, menyimpulkan, dan membuktikan. Dan اِقْرأْ
juga dapat dipersamakan dengan melihat, sekaligus mengamati dan memperhatikan,
serta merekam dalam ingatan objek apa saja yang ada dihadapan kita, sehingga
nantinya dapat mengambil manfaat dari apa yang kita perhatikan itu. Dan bila
dikaitkan dengan “بِإسْمِ ربّكَ” (dengan nama
Tuhanmu). Hal ini merupakan syarat sehingga menuntut si pembaca bukan saja agar
membaca dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang
tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu. Karena
yang memerintah membaca adalah Tuhan yang mendidik, memelihara, mengembangkan,
meningkatkan, dan memperbaiki keadaan makhluk-Nya.
6.
Q.S Q.S
al-Baqarah (2): 260. ayat ini memberikan gambaran bagaimana
perjalanan Nabi Ibrahim dalam mencari keyakinan pada Tuhan. Nabi Ibrahim ingin
memantapkan keyakinannya kepada Tuhan. Dengan panduan dari Tuhan, Nabi Ibrahim
diperintahkan untuk melakukan percobaan (eksperimen). Lalu Nabi Ibrahim diberi
sebuah metode oleh Tuhan untuk membuktikan keberadaan-Nya. dan media yang
digunakan oleh Nabi Ibrahim disini adalah berupa burung. Dan kisah ini memberi
petunjuk kepad kita bahwa keyakinan itu perlu kita tingkatkan. Dari yakin
menjadi haqul yakin. Untuk mencapai derajat haqul yakin (keimanan yang mantap)
manusia harus membuktikan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan Tuhan.
B.
SARAN-SARAN
Saran-saran yang dapat
kami berikan kepada pembaca ialah, hendaknya dalam belajar-mengajar itu agar
menggunakan semua media yang ada, karna menurut penelitian, penggunaan beberapa
media itu terbukti dapat meningkatkan pemahaman dan menguatkan memori otak kita
jika dibanding hanya menggunakan medi pendengaran yang kita gunakan selama ini.
Untuk itulah kami mengajak kepada pembaca agar tidak henti-hentinya belajar dan
menuntut ilmu, dan tidak lupa kami sarankan agar belajar menggunakan media
ajar, karna betapapun luas ilmu yang kita miliki tapi tidak bisa menyandangkan
dengan kemajuan teknologi saat ini, tentunya pasti akan menemui kesulitan,
menurut penelitian yang dilakukan ada tiga ribu aplikasi yang baru setiap
detiknya yang masuk dalam perkembangan ilmu teknologi. Oleh karena itulah, kita
dituntut untuk terus mengupdate pengetahuan atau ilmu kita, agar kita tidak
menjadi bangsa yang tertinggal, Mintalah kepada teman yang sudah tau untuk mengajarkannya, karna ada hadis yang mengatakan اَلعِلْمُ بِلاَ عَمَلِ كَشَّجَرِبِلا ثَمَر
(Ilmu yang tidak di amalkan/ diajarkan bagaikan pohon yang tidak berbuah. Akhir kalam اَلسَّلامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ
DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi,
Ahmad Musthafa, 1985. Terjemahan Tafsir Al-Maraghi, Semarang; Toha Putra.
Dewan Redaksi,
1994, Suplemen Ensiklopedi Islam, 2, Jakarta, PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Dr.
Muhammad Sayyid al-Musayyar, 2009. Alam al-Ghaib Fi al-Aqidah al-Islamiyah,
diterjemahkan oleh Iman Firdaus, Taufiq Damas.
Gusmardi, Thesis
: Penafsiran Kontekstual M.Quraish
Shihab Terhadap Ayat-Ayat yang Beredaksi Mirip dalam Al-Qur’an, (Padang : PPS
IAIN IB,2013)
Hamdani Anwar,
Telaah Kritis Tafsir Al-mishbah, Jurnal Mimbar Agama dan Budaya vol XII,
No.2,2001
Hamka, 1998. Tafsir
Al-Azhar.Singapura:Pustaka Nasional PTE LTD Singapura.
Ibnu Katsir,
1369H/1970M. Muqaddimah Tafsir
Al-qur’an nul’Azhim, Daarul Fikr, Beirut Cet. II..
M.
Quraish Shihab, 1992, Membumikan al-Qur’an, Bandung, Mizan.
M. Quraish
Shihab, 2005. Tafsir Al-Mishbah : Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an,
Jakarta : Lentera Hati.
Manna' Kholil
al-Qattan, 2004, Studi-studi Ilmu al-Qur'an, Bogor, Lintera Antar
Nusa.
Muhammad
Nasib ar-Rifaii, 2000. Taisiruu
al-Aliyyul Qadir Li ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, di Terjemahkan
Oleh Drs. Sihabuddin, M.A dengan Judul Kemudahan Dari Allah:Ringkasan Tafsir
Ibnu Katsir, Jakarta, Gema Insani Press:.
Munawwir, Ahmad
Warson, , 1984. Kamus Arab Indonesia, Yogyakarta; Ponpes al-Munawwir.
Nasr Hamid Abu
Zaid, 1995. an-Nash as-sultah al-Haqiqah, diterjemahkan oleh sunarwoto
dema, Teks Otoritas Kebenaran, penerbit LKiS yagyakarta salakan baru.
Proyek Pengadaan
Kitab Suci Al Qur’an Departemen Agama RI, 1983/1984. Al-Quran Dan Tafsirnya..
Qardhawi, Yusuf,
, 1998. al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta,
Gema Insani.
Rasid
Rachman, 1999. Pengantar Sejarah
Liturg,i Tangerang: Bintang Fajar.
Shihab, Quraish,
, 2007. Membumikan Al-Qur’an : Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat,
Bandung, Mizan Pustaka.
Soemabrata,
Iskandar AG, , 2007. Pesan-pesan Numerik Al-Qur’an, Jakarta, Republika.
Syahiron
Syamsuddin, 2003, Hermeneutika al-Qur'an : Madzhab Yogya, Yogyakarta., Islamika
Syihab,M.Quraish,
2002. Tafsir Al-Misbah Pesan,kesan dan keserasian Al- Qur`an. Jakarta : Lentera Hati.
Tafsir Al-Qur’an
Al-Karim, 1997. Tafsir Atas Surat-surat Pendek Berdasarkan
Urutan Turunnya, Bandung, Pustaka Hidayah.
Teungku Muhammad
Hasbi Ash-Shiddieqy, 2000, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur'an dan Tafsir,
Semarang, Pustaka Rizki Putra.
Http://google.com/search asal-usul kejadian manusia/
diambil pada tanggal 27 september 2014
http://koneksi-indonesia.org/2014/undian-dalam-al-quran,
diambil pada tangal 8 November 2014
http://www.alsofwah.or.id/cetakquran.php?id=217,
diambil pada tanggal 8 November 2014
BIODATA PENULIS
1.
Nama : H.
M. Sabir, S.Ag.
NIM :
14-0211-042
Tempat tanggal lahir :
Pinrang,
7 Desember 1968
Pekerjaan :
Guru
Jenjang pendidikan :
- SD Negeri Pinrang
-
SMP Negeri 1 Pinrang
-
SMA Negeri 1 Pinrang
-
STAI DDI Pinrang
2. Nama :
Muhammad Jufri, S.Ag.
NIM :
14-0211-036
Tempat tanggal lahir :
Parepare,
22 Nopember 1972
Pekerjaan :
Guru
Jenjang pendidikan :
- MI DDI Ujung Lare
-
MTsN Parepare
-
MAN 158 Parepare
-
IAIN Parepare
3. Nama :
Muhammad
Shaleh, S.Sy (elaz)
NIM :
14-0211-033
Tempat tanggal lahir :
Parepare
27 April 1979
Pekerjaan :
Supir
Jenjang pendidikan :
- MI DDI Ujung Lare
-
MTs
DDI
Mangkoso
-
MA
DDI
Al-Furqan Parepare
-
STAIN
Parepare
PERTANYAAN DAN
JAWABANNYA
[2] Rasid Rachman, Pengantar
Sejarah Liturg,i (Tangerang: Bintang Fajar, 1999), hlm.122.
[6] Dr. Muhammad Sayyid al-Musayyar, Alam al-Ghaib Fi
al-Aqidah al-Islamiyah, diterjemahkan oleh Iman Firdaus, Taufiq Damas (cetakan
1 2009), hlm. 36-37
[12] Departemen Agama RI, Al-
Qur’an Al-Karim wa tafsiruhu (Al-Qur’an dan Tafsirnya) Jilid 5, tahun 2006.
[13] Hamka,Tafsir
Al-Azhar.Singapura:Pustaka Nasional PTE LTD Singapura,1998.
[16] Quraish
Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Tafsir Atas Surat-surat Pendek
Berdasarkan Urutan Turunnya, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1997), hlm. 77-78
[18]Muhammad Nasib ar-Rifaii,
Taisiruu al-Aliyyul Qadir Li ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, di
Terjemahkan Oleh Drs. Sihabuddin, M.A dengan Judul Kemudahan Dari
Allah:Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Jakarta, Gema Insani Press:200), hlm
798
[22]
Departemen
Agama RI, Al- Qur’an Al-Karim wa tafsiruhu (Al-Qur’an dan Tafsirnya)
Jilid 5, tahun 2006.
[24] Http://google.com/search
asal-usul kejadian manusia/ diambil pada tanggal 27 september
2014
[27]
http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=96#5
[28] http://iincuby.blogspot.com/2010/05/tafsir-al-alaq-1-5.html. Diambil
pada tanggal 8 oktober 2014
[29] http://iincuby.blogspot.com/2010/05/tafsir-al-alaq-1-5.html. Diambil
pada tanggal 8 oktober 2014
[30] Yusuf
Qardhawi, al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan,
(Jakarta, Gema Insani, 1998), hlm. 235
[31] Dr.
H. Abuddin Nata, MA., Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta, Pt. Raja
Grafindo Persada, 2002), hlm. 43. Lihat juga, Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemahan
Tafsir Al-Maraghi, (Semarang; Toha Putra, 1985), hlm. 326-329
[33] Qurash
Shihab, Membumikan Al-Qur’an : Fungsi Dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan
Masyarakat, (Bandung, Mizan Pustaka, 2007), hlm. 168.
[35] Quraish
Shihab, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Tafsir Atas Surat-surat Pendek
Berdasarkan Urutan Turunnya, hlm. 83.
[36] Nasr Hamid Abu Zaid, an-Nash
as-sultah al-Haqiqah, diterjemahkan oleh sunarwoto dema, Teks Otoritas
Kebenaran, (penerbit LKiS yagyakarta salakan baru 1995) hlm. 227
